Follow detikFinance
Senin 06 Mar 2017, 09:41 WIB

3 Hal Ini Jadi Penggerak Sektor Batu Bara

Ellen May - detikFinance
3 Hal Ini Jadi Penggerak Sektor Batu Bara Foto: Istimewa
Jakarta - Batu bara merupakan salah satu komoditas yang terkenal di dunia, yang berfungsi sebagai pembangkit listrik dan juga merupakan bahan bakar pokok untuk produksi semen dan baja. Akhir-akhir ini, ada suatu kejadian yang membuat batu bara kembali menguat di China.

Sementara itu, pidato Trump di Amerika pun turut memberikan angin segar untuk batu hitam tersebut. Pengaruh seperti apakah yang diberikan oleh ke-2 negara tersebut? Sambil menutup perdagangan pada pekan ini, mari kita simak semua ulasannya hanya di #Kopipagi 3 Maret 2017.

Sebelum itu, mari kita perhatikan dulu pergerakan IHSG pada hari ini.

IHSG pada perdagangan Jumat pekan kemarin, ditutup melemah sebesar 0,35% di level 5,389.47. Pelemahan ini mengikuti Dow Jones serta bursa kawasan Asia yang sebagian besar melemah. Berdasarkan hasil dari pidato Yellen pada pekan lalu yang bernada Hawkish, Yellen mengatakan bahwa rencana kenaikan suku bunga akan berjalan sesuai rencana awal, dan akan lebih cepat jika dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya. Sementara itu berdasarkan data terakhir, Dow Jones bergerak stagnan, hanya naik 0,1% ke level 21,005.71.

Batu bara merupakan barang subtitusi, yang artinya dapat digantikan dengan barang lain seperti gas alam dan barang tambang lainnya. Namun, harganya yang lebih stabil dibandingkan bahan tambang lainnya, membuat batu bara tetap menjadi favorit di pasar dunia. Bagaimanakah sentimen pasar dunia terhadap harga batu bara ini? Langsung saja kita, yuk kita lihat pembahasannya.

Sentimen Positif batu bara Dari China Dan Amerika

Pemerintah China hingga saat ini terus berusaha untuk menstabilkan pergerakan harga batu bara sehingga tidak jatuh maupun naik terlalu dalam. Hingga saat ini, terdapat 3 hal yang sangat mempengaruhi pergerakan harga batu bara, yakni aturan kebijakan China, realisasi kebijakan Amerika, serta nilai mata uang dolar.

Saat ini, ekonomi China mulai mengalami perbaikan dibandingkan saat perlambatan ekonomi kemarin. Kondisi ekonomi China yang mulai stabil, membuat timbulnya harapan permintaan batu bara dari negeri tirai bambu ini akan semakin meningkat. Namun, pergerakan batu bara ini juga akan bersaing dengan harga gas alam yang lebih murah dan ramah lingkungan. Namun, apabila kurs dolar kembali melemah, maka batu bara akan kembali menjadi pilihan.

Berikut 3 sentimen dari global untuk batu bara

1. Kebijakan China untuk menghentikan impor batu bara dari Korea Utara (Korut). Sekedar info, tingkat impor batu bara sebelum dihentikan mencapai level 50%.

2. Rencana kebijakan pembatasan produksi batu bara di Tiongkok. Beberapa perusahaan produsen batu bara, termasuk Shenhua Group, setuju untuk menjaga kestabilan harga batu bara. Tiongkok akan membatasi produksi batu bara untuk mencegah harga batu bara turun terlalu jauh, agar tidak menganggu proses perbaikan ekonomi di negara China.

3. Pidato Trump yang berjanji akan mengeluarkan dana untuk belanja infrastruktur hingga US$ 1 triliun dalam pidato perdananya di parlemen Selasa kemarin. Seperti yang kita ketahui, batu bara merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk membuat semen dan baja, serta digunakan sebagai bahan energi pembangkit listrik. Tentunya, dengan dinaikkannya dana belanja infrastruktur di Amerika, akan membuat permintaan terhadap emas hitam itu akan meningkat dan menaikkan harga batu bara di pasar global.

Seperti yang Anda lihat, bahwa sebenarnya kebijakan China lebih mengarah ke menstabilkan harga batu bara, bukan untuk menaikkan harga bahan tambang tersebut. Karena tidak hanya membatasi produksi, China juga mengurangi konsumsinya akan batu bara, untuk menghindari fluktuasi batu bara yang terlalu jauh, mengingat tujuan negara tersebut untuk melakukan perbaikan ekonomi negaranya.

Sedangkan, akibat sentimen dari pidato Trump kemarin yang mengisyaratkan akan terjadinya pembangunan besar-besaran di Amerika, membuat harga-harga kebutuhan infrastruktur termasuk batu bara menguat.

Harga batu bara terus melanjutkan penguatannya pada penutupan perdagangan kamis kemarin. Pada perdagangan Kamis, harga batu bara untuk Januari 2018, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup naik 0,14% ke US$70,60/metrik ton. batu bara nampaknya mengikuti gerak sejumlah komoditas yang menguat setelah mendapatkan angin segar dari isi pidato Presiden Amerika, Donald Trump.

Hal ini, tentunya merupakan sentimen positif untuk saham-saham yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, seperti ITMG, DOID dan HRUM. Belum lagi, laporan keuangan saham-saham tersebut diperkirakan akan terus membaik, mengingat kenaikan harga batu bara sejak 2016 lalu. batu bara (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed