Follow detikFinance
Selasa 07 Mar 2017, 09:32 WIB

Sentimen Penggerak Nikel, dari Filipina Hingga Indonesia

Ellen May - detikFinance
Sentimen Penggerak Nikel, dari Filipina Hingga Indonesia Pengamat Saham Ellen May (Foto: Istimewa)
Jakarta - Filipina merupakan negara dengan tingkat produksi nikel terbesar di dunia, dengan tingkat suplai nikel terbesar hingga 25% dibandingkan negara lainnya. Belum lama ini, Filipina menutup sejumlah tambang penghasil nikel terbesar di negaranya sendiri, yang menyumbang hingga 50% total produksi nikel di Filipina.

Apa yang menyebabkan penutupan tambang tersebut? Lalu, bagaimana harga nikel kedepannya? Sambil memulai hari Anda, Simak ulasan selengkapnya hanya di #Kopipagi 7 Maret 2017.

Sebelumnya mari kita lihat dulu bagaimana pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin.

IHSG pada perdagangan Senin kemarin ditutup menguat dengan penguatan sebesar 0,35% di level 5,409.82. Pergerakan IHSG yang positif terjadi di saat bursa Asia bergerak mixed cenderung melemah di tengah tekanan akan adanya kenaikan suku bunga The Fed hingga 100 basis point pada Maret ini.

Sementara itu, Dow Jones mulai mengalami koreksi sebesar 0,24% ke level 20,954.34. Hal itu berbanding terbalik dengan EIDO yang justru menguat hingga 0,69% ke level 24.82 hari ini.

Saya lihat IHSG hari ini berpotensi kembali menguji resisten 5410 dengan range pergerakan 5345-5410.

Sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia, keputusan Filipina untuk menutup tambang penghasil nikel terbesar di negaranya tersebut tentunya memberikan dampak secara global terutama pada komoditas nikel sendiri. Yuk, langsung saja lihat dalam pembahasan berikut ini.

Tambang Rusak Lingkungan, Filipina Langsung Bertindak

Pada beberapa waktu lalu, Rodrigo Duterte menyaksikan kejadian tak terduga ketika melakukan survei ke kota Surigao yang rusak akibat gempa. Dalam perjalanannya menuju ke kota tersebut, Duterte menyaksikan runtuhnya beberapa tambang dan kerusakan yang disebabkan oleh tambang-tambang nikel tersebut terhadap lingkungan serta pemukiman warga di sekitar daerah itu.

Akibat bencana yang terjadi, tambang yang tidak dikelola dengan baik tersebut akhirnya runtuh dan menewaskan 6 orang serta beberapa fasilitas publik disekitar daerah tambang tersebut.

Melihat hal itu, Rodrigo Duterte langsung menyatakan dukungan terhadap sikap menterinya untuk menutup sejumlah tambang di Filipina Selatan. Dari 23 tambang yang ditutup oleh Menteri Lingkungan Regina Lopez, 7 di antaranya berada di Provinsi Surigao del Norte, dan 7 lainnya berada di dekat Pulau Dinagat.

Hampir semua tambang itu menghasilkan nikel. Penutupan tambang-tambang besar tersebut diperkirakan akan mengurangi pasokan nikel hingga 50% dari produksi biasanya.

Keputusan Rodrigo tersebut tentunya mengejutkan beberapa negara yang merupakan mitra perdagangan nikel dengan Filipina. Pasalnya, nikel merupakan salah satu komoditas penghasil devisa terbesar di negara tersebut, dengan penutupan tambang tersebut tentunya akan mengurangi pendapatan negara serta menganggu keadaan negara lumbung padi tersebut.

Berbagai Kebijakan Terkait Harga Nikel

Selain dari keputusan penutupan tambang-tambang besar penghasil nikel di Filipina, harga nikel juga terkena efek dari beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam negeri. Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Untuk menindaklanjuti beleid tersebut, telah diterbitkan dua Peraturan Menteri ESDM, yang salah satunya ialah Permen ESDM no.6/2017 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan Mineral ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Permurnian. Dalam beleid baru itu, tercantum peraturan perihal rencana penjualan ke luar negeri yang memuat salah satunya jenis dan jumlah mineral logam yang telah memenuhi batasan minimum pengolahan/nikel dengan kadar <1,7%.

Keluarnya peraturan ini tentunya akan semakin meningkatkan ekspor negara Indonesia ke luar negeri, akibat dikuranginya batas minimum kadar nikel yang boleh diekspor. Sentimen dari Indonesia ini sempat membuat harga nikel melemah ke area US$9.000-an per ton.

Namun, hingga kini perusahaan tambang masih menunggu kejelasan peraturan dari pemerintah terkait volume bijih yang bisa diekspor.

Selain itu, Filipina baru-baru ini juga sedang mempertimbangkan untuk mengeluarkan larangan ekspor bijih nikel. Artinya, perusahaan tambang yang sudah melewati pemeriksaan Kementerian Lingkungan dan SDA akan mengolah bijih mereka sendiri sehingga mendapatkan nilai tambah.

Itu artinya, Filipina akan melarang adanya ekspor bijih nikel, dan akan meningkatkan ekspor nikel olahan yang nilainya sudah lebih tinggi ke pasar. Hal ini tentunya akan mengurangi peredaran bijih nikel di global dan meningkatkan harga pasar nikel di dunia.

Sentimen lain datang dari ekspektasi peningkatan permintaan dari Amerika dan China. Dari sisi permintaan, penyerapan nikel oleh China akan meningkat karena para produsen baja berpindah dengan membuat produk yang lebih bernilai tinggi, yakni baja anti karat atau stainless steel.

Paman Sam juga menambah konsumsi seiring dengan peningkatan belanja infrastruktur. Selain itu, pengenaan pajak impor dari Amerika terhadap stainless steel China akan mendorong produsen lokal membuat baja sendiri. Faktor tersebut turut memacu pertumbuhan harga nikel.

Pada pembukaan perdagangan kemarin, harga nikel di bursa London Metal Exchange dibuka menguat hingga 1,57% ke level US$ 10.977 per ton. Naiknya harga nikel ini tentunya akan memberikan sentimen positif untuk saham-saham yang memproduksi nikel seperti ANTM dan INCO.

(ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed