IHSG beberapa hari terakhir terus menguat dan sekarang berada di level "all time high". IHSG pada perdagangan kemarin di tutup menguat 0,39% di level 5,539.82 merupakan level tertinggi bagi IHSG selama beberapa tahun terakhir.
Kenaikan IHSG ini diakibatkan oleh keputusan bank sentral Amerika (The Fed) untuk menaikkan suku bunganya. Sehingga menyebabkan kenaikan di berbagai indeks bursa global, terutama di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan pekan lalu, investor asing masih terus membukukan aksi net buy. Setelah hari sebelumnya melakukan aksi net buy hingga Rp 1,84 triliun, pada Jumat kemarin, asing tercatat melakukan net buy hingga Rp 2,48 triliun.
Wow, jumlah yang luar biasa mengingat transaksi rata-rata harian asing di bursa beberapa minggu kemarin paling tinggi hanya sebesar Rp 503,70 miliar. Ini dia pembahasannya.
Penyebab Tingginya Transaksi Asing
The Fed merupakan salah satu kunci utama, tingginya investasi asing di Indonesia. Kenapa? Awalnya, pemberitahuan bahwa bakal dinaikkannya suku bunga The Fed pada tahun ini, membuat pada trader menjadi was-was. Mengingat kenaikan The Fed yang cukup jarang terjadi, yang biasanya hanya akan naik 1 kali dalam setahun, tiba-tiba berubah menjadi 3-4 kali tahun ini.
Perubahan tiba-tiba proyeksi kenaikan suku bunga The Fed tersebut, tidak lain berdasarkan dari kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh Trump untuk membangkitkan ekonomi Amerika. Perihal kenaikan ini pun menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para investor global, mengingat sikap Trump yang terlalu agresif.
Namun, ternyata berkat kebijakan yang dilakukan oleh Trump tersebut berhasil memberi pengaruh positif bagi Amerika. Melihat hal itu, investor asing pun menduga-duga, akankah The Fed benar-benar menaikkan suku bunganya berkat kondisi ekonomi Amerika yang membaik bulan ini?
Semuanya terjawab pada Kamis 16 Maret dini hari kemarin, dimana The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1% bulan ini. Para trader dan investor asing pun lega, setelah mendapatkan kepastian dari keputusan The Fed tersebut, dan akhirnya mulai kembali menanam bibit investasi di seluruh indeks global, terutama Indonesia.
Selain didorong oleh kepastian tersebut, badan pemeringkat dunia, S&P juga berpotensi menaikkan peringkat Indonesia pada Mei 2017, sebab tekanan dari rasio kredit bermasalah perbankan sudah bisa diatasi. Ditambah lagi dengan event bagi-bagi dividen perusahaan Indonesia, terutama BUMN di bulan Maret-April nanti, juga turut menjadi sentimen bagi para trader asing.
Total dividen yang disetorkan dari bank BUMN saja kepada pemegang sahamnya mencapai Rp 21,15 triliun pada tahun ini, atau tumbuh 29,4% jika dibandingkan dengan tahun 2016 lalu Rp 16,34 triliun. Terutama, bank BRI yang pada tahun ini akan memberikan dividen dengan total senilai Rp 10,47 triliun kepada seluruh pemeagang sahamnya.
Selain berkurangnya ketidakpastian pasar, investor asing tampak happy dengan rencana korporasi di Indonesia yang membagi-bagi dividen. Aksi bagi-bagi dividen ini diduga akan membuat kinerja indeks tetap di level hijau beberapa bulan ke depan.
Tingginya kenaikan IHSG tersebut tentunya dipengaruhi oleh saham-saham Blue Chip, sehingga tidak heran jika saham-saham seperti BBRI, ASII, TLKM dan BMRI menjadi incaran investor asing saat ini.
Salam profit,
Ellen May (ang/ang)











































