IPO PT Sanur Hasta Mitra
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ASSA- Belanja modal
PT Adi Sarana Armada (ASSA) mengalokasikan belanja modal tahun ini sebesar Rp 1 Triliun. Dana belanja modal akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembelian kendaraan, infrastruktur, dan pengembangan usaha. Tahun lalu mayoritas pendapatan perseroan didapatkan dari sisi jasa penyewaan kendaraan dan juru mudi sebesar Rp 1.07 Triliun. Sementara itu, perseroan membukukan kenaikan laba bersih tahun 2016 sebesar 81.9% menjadi Rp 62.15 Miliar.
ISAT - Belanja modal
PT Indosat Ooredoo (ISAT) menyiapkan belanja modal sebesar Rp 7-7.5 Triliun tahun ini. Perseroan akan menggunakan 75%-80% dana belanja modal untuk investasi jaringan dan sisanya untuk penambahan teknologi informasi. Sumber dana belanja modal berasal dari kas internal. Untuk refinancing utang luar negeri ISAT berencana menggelar penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi II. Tahun lalu ISAT membukukan kenaikan pendapatan sebesar 9%Yoy menjadi Rp 29.2 Triliun.
KIJA - Target marketing sales
PT Kawasan Industri Jababeka (KIJA) menargetkan marketing sales senilai Rp 2 Triliun tahun ini, naik 28.2% dibandingkan realisasi marketing sales tahun lalu senilai Rp 1.56 Triliun. KIJA menargetkan kawasan industri Jababeka di Cikarang (Jawa Barat) berkontribusi Rp 1.4 Triliun sementara target marketing sales kawasan industri Kendal (Jawa Tengah) senilai Rp 500 Miliar dan sisanya target marketing sales dari proyek lain. KIJA juga akan melanjutkan ekspansi penambahan cadangan lahan dengan menganggarkan dana belanja modal Rp 600 Miliar untuk menambah cadangan lahan di Cikarang dan Kendal.
MEDC - Kinerja FY 2016
PT Medco Energi Internasional (MEDC) membukukan laba bersih sebesar US$ 184.76 Juta tahun lalu Vs rugi bersih US$ 188.13 Juta pada tahun 2015. Naiknya kinerja didukung kenaikan pendapatan sebesar 4.3%Yoy menjadi US$ 600.35 Juta tahun lalu. Efisiensi biaya produksi mendorong kinerja laba kotor sehingga naik 15.3%Yoy menjadi US$ 250.58 Juta pada FY 2016. Kinerja laba bersih MEDC didukung pencatatan laba atas pembelian diskon sebesar US$ 551.65 Juta pada FY 2016.
TPIA - Pabrik cracker kedua
PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA) akan mulai membangun pabrik cracker kedua. TPIA akan menguasai 99% saham dan sisanya 1% dimiliki oleh anak perusahaan, PT Styrindo Mono Indoensia. TPIA akan mempersiapkan dana investasi senilai total US$ 5 Miliar secara bertahap yang akan digunakan untuk produksi hilir petrokimia. TPIA menjadwalkan pabrik baru dapat beroperasi pada tahun 2021. Selain memproduksi etilena sebesar 1 juta ton per tahun pabrik ini juga akan memproduksi pygas 450,000 per tahun dan propilena 550,000 ton per tahun. Lokasi pabrik berada di lahan 100 Ha di Anyer (Banten). (ang/ang)











































