Follow detikFinance
Kamis 06 Apr 2017, 09:38 WIB

Cerita di Balik Penguatan Harga Minyak​

Ellen May - detikFinance
Cerita di Balik Penguatan Harga Minyak​ Foto: Istimewa
Jakarta - Setelah sempat melemah menembus level US$ 50, harga minyak mulai kembali menanjak. Hal tersebut terutama diakibatkan oleh rilis data stok minyak Amerika kemarin. Seperti apa hasil dari rilis data tersebut? Lalu, sentimen apalagi yang mempengaruhi harga minyak? Simak semuanya, hanya di #Kopipagi hari ini.

Pada perdagangan kemarin, IHSG terus tercatat menguat hingga 0,45% di level 5,676.98. Selain karena rilis data IHK yang ternyata malah deflasi 0,02%, lonjakan EIDO serta penguatan stabil harga minyak membuat IHSG semakin kokoh. sementara itu, Dow Jones pada perdagangan pagi ini ditutup melemah sebesar 0,20% ke level 20,648.15, bersamaan dengan pelemahan EIDO sebesar -1,13% ke level 26,16.

Hingga sore kemarin, harga minyak WTI kontrak pengiriman Mei 2017 tercatat menguat 0,86% ke level US$ 51,47 per barrel dari US$ 51,03 satu hari sebelumnya. Sedangkan jika dibandingkan sepekan sebelumnya harga sudah menguat 3,96%. Berikut ulasannya.

Produksi Menurun, WTI Menguat

Pergerakan harga minyak mentah berakhir dengan rebound tajam ke kisaran level tertingginya dalam satu bulan terakhir pada perdagangan pekan ini. Harga minyak WTI kontrak Mei 2017 ditutup menguat tajam 1,57% atau 0,79 poin ke US$ 51,03 per barel, setelah dibuka stagnan di posisi 50,24.

Patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Juni 2017 turut berakhir melesat 1,98% atau 1,05 poin ke US$54,17, setelah dibuka dengan kenaikan 0,11% atau 0,06 poin di posisi US$ 53,18.

Kenaikan ini terutama diakibatkan oleh penghentian produksi ladang minyak Buzzard di Inggris sebanyak 180.000 barel per hari (bph), akibat perbaikan pada terminal pengolahan onshore.

Selain itu, rilis data jumlah cadangan minyak Amerika yang lebih rendah dari biasanya mengakibatkan minyak WTI lanjut menguat sebesar 0,86% ke level US$ 51,47 bph. Berdasarkan laporan dari American Petroleum Institute menunjukkan pada pekan yang berakhir 31 Maret lalu, cadangan minyak Amerika mengalami penurunan sebanyak 1,8 juta barel. Padahal awalnya diperkirakan koreksi hanya sekitar 435.000 barel saja.

Sepanjang Ferbuari kemarin, ekspor minyak Amerika tercatat mencapai 1 juta barel per hari. China menjadi pengimpor terbesar selama periode tersebut. Ekspor minyak yang tinggi tersebut mengakibatkan berkurangnya stok minyak milik Amerika, sehingga menurunkan jumlah stok minyak di pasar global.

Pekan lalu pasokan minyak dari Libya sempat mengalami gangguan akibat adanya pemblokiran para demonstran. Terhentinya produksi minyak di Sharara dan Wafa diperkirakan bisa mengurangi produksi sekitar 252.000 bph. Namun, seiring meredanya konflik tersebut, produksi minyak Libya pun kembali normal.

Sentimen tersebut, mengakibatkan terjadinya lonjakan terhadap harga minyak. Hal ini pun juga memberikan dampak positif untuk saham-saham di sektor minyak, seperti ELSA, MEDC dan BIPI.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed