Follow detikFinance
Kamis 13 Apr 2017, 09:23 WIB

Titik Balik Saham Infrastruktur Mulai Terlihat

Ellen May - detikFinance
Titik Balik Saham Infrastruktur Mulai Terlihat Foto: Istimewa
Jakarta - Sektor konstruksi dan infrastruktur bisa dibilang merupakan sektor yang cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan pergerakannya yang perlahan namun pasti, yang biasanya tertekan pada awal tahun dan terus menguat menjelang akhir tahun.

Lalu, apakah kali ini siklus tersebut akan berubah terkait kebijakan pemerintah tahun ini? Apa penyebab lemahnya sektor ini pada beberapa waktu belakangan? Simak semua jawabannya, hanya di #Kopipagi hari ini.

Kemarin, IHSG ditutup menguat sebesar 0,29% ke level 5,644.15. Penguatan itu terjadi didorong oleh penguatan secara serentak, di bursa Asia. Sementara itu, Dow Jones pada pagi ini masih mengalami koreksi sebesar 0,29% ke level 20,591.86, berkebalikan dengan EIDO yang hari ini justru menguat hingga 0,77% ke level 26,29.

Setelah cukup lama ditunggu investor, saham emiten konstruksi dan infrastruktur BUMN akhirnya mulai naik daun. Pada perdagangan Rabu kemarin, saham emiten konstruksi pelat merah berhasil mencuri perhatian pelaku pasar. Berikut ulasannya.

Harga saham empat emiten pelat merah pada hari ini melonjak cukup signifikan. Harga saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI), misalnya, melonjak 9,26% menjadi Rp 2.360 per saham pada perdagangan hari kemarin. Disusul oleh WIKA yang mengukir kenaikan harga sebesar 7,76% pada hari ini menjadi Rp 2.360 per saham.

Posisi ketiga ditempati saham PT PP Tbk (PTPP) yang mencetak kenaikan harga sebesar 6,96% menjadi Rp 3.380 per saham. Sementara saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik 4% menjadi Rp 2.340 per saham.

Kenaikan keempat emiten di sektor konstruksi dan infrastruktur tersebut, menjadi kenaikan paling signifikan untuk awal tahun 2017 ini. Karena sebelumnya ketika IHSG mengalami kenaikan yang cukup dramatis beberapa waktu terakhir, hingga menembus level tertingginya, sektor ini malah tertekan. Padahal, jika dilihat secara fundamental, kinerja keempat emiten tersebut, bisa dibilang cemerlang.

Lalu, apa penyebab merosotnya kinerja sektor konstruksi dan infrastruktur ini ditengah kenaikan IHSG?

Ada 4 hal utama penyebab terjadinya tekanan tersebut:
1. Adanya perkiraan akan diterapkannya pajak tanah progresif
2. Sentimen kenaikan suku bunga The Fed yang akan membuat BI menaikkan suku bunga
3. Situasi politik di Indonesia
4. Aliran Dana Sektor Konstruksi

Seperti yang kita ketahui, 4 sentimen kuat yang menahan laju sektor konstruksi untuk tahun ini. Akan tetapi, perlahan-lahan, hambatan tersebut mulai dinetralisir.

Hal ini terlihat dari pernyataan pemerintah pada beberapa hari yang lalu, yang menyatakan akan menunda penerapan pajak tanah progresif, akibat masih lesunya pergerakan sektor tersebut. Selain itu, pemerintah juga mempertahankan sektor pertahanan dan infrastruktur sebagai fokus utama pembangunan hingga tahun depan.

Hal paling utama yang menjadi kendala pertumbuhan di sektor ini ialah, terkait masalah dana. Namun, tidak perlu khawatir lagi, karena pemerintah akan mendorong korporasi untuk mendanai pembangunan proyek infrastruktur sehingga tidak lagi tergantung pada APBN.

Biasanya, pemerintah membiayai struktur pembangunan Indonesia melalui dana dari APBN, sehingga menimbulkan siklus yang menyebabkan efektifitas penggunaan dana tersebut menjadi tidak efektif pada awal tahun.

Namun, berkat terbukanya peluang besar skema pmbiayaan berasal dari public private partnership (PPP) dan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Sehingga hal ini nantinya menyebabkan pemerintah tidak lagi perlu mendanai proyek tersebut sendirian, karena akan dibantu oleh pihak swasta.

Melihat hal itu, bisa dibilang saham-saham di sektor konstruksi dan infrastruktur akan mulai menggeliat, seperti CTRA, PTPP, ADHI dan WSKT.

Salam profit,

Ellen May (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed