Follow detikFinance
Kamis 20 Apr 2017, 09:28 WIB

Anies-Sandi Menang, Bagaimana Pergerakan Saham-saham​?

Ellen May - detikFinance
Anies-Sandi Menang, Bagaimana Pergerakan Saham-saham​? Foto: Istimewa
Jakarta - Berdasarkan hasil quick count pada Pilkada Rabu 19 April kemarin, ditetapkan bahwa gubernur DKI Jakarta selanjutnya ialah Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Lalu, seperti apakah efeknya ke pasar saham?

Apakah hal tersebut dapat memberikan efek yang berbeda pasca kepemimpinan Ahok? Simak selengkapnya, hanya di #Kopipagi hari ini.

IHSG pada perdagangan terakhir ditutup menguat 0,52% di level 5,606.52. Penguatan IHSG ini terutama diakibatkan oleh surplus ekspor yang dialami Indonesia, mencapai US$ 13,36 miliar atau naik 15,68% yang juga merupakan kenaikan tertinggi sejak tahun 2015.

Sementara itu, Dow Jones pada perdagangan pagi tadi ditutup melemah -0,58% ke level 20,404.49. Pelemahan Dow Jones ini juga diikuti oleh EIDO yang tergelincir hingga -1,08% ke level 25.62.

Terpilihnya Anies Sandi sebagai gubernur baru DKI Jakarta berpotensi mengakibatkan pasar saham cenderung bergerak melemah.

Hal ini bukan dikarenakan keraguan akan pasangan gubernur dan wakil gubernur ini, karena sejak awal memang mereka sudah leading.

Potensi koreksi pada market lebih disebabkan oleh faktor indecission sebagai respons wajar investor saat pemimpin baru terpilih.

Mau tonton lagi video dari 20detik?


Bagaimana dengan kota Jakarta sendiri tanpa Ahok?

Jakarta masih akan baik-baik saja tanpa Ahok, meskipun kinerja Anies dikhawatirkan tidak seefisien Ahok, yang bisa melambatkan pertumbuhan.

Tapi overall dengan birokrasi yang lambat pun, IHSG masih bertumbuh karena Indonesia tidak hanya Jakarta.

Dulu, ketika Jakarta belum ada Ahok pun, pada era Foke, perekonomian juga masih bertumbuh meski tidak secepat pada era Ahok.

Meski IHSG berpotensi melemah, investor tidak perlu khawatir karena hal ini sangat wajar sekali, mengingat IHSG sudah menguat signifikan sejak awal tahun 2017 (+ 7,18% ytd)

Dan secara historis, terlepas dari ada atau tidaknya pilkada DKI, pasar cenderung terkontraksi wajar memasuki bulan Mei-Agustus, lebih karena didorong okeh faktor global yang sedang berasa dalam tekanan, dan momen kontraksi ini, berpotensi digunakan oleh institusi untuk kembali mengkoleksi saham-saham blue chips.

Saat ini, ketimbang berfokus pada hasil pilkada DKI yang telah lewat, sebaiknya kita fokus pada apa yang akan kita hadapi di depan mata, seperti:

1. Earnings kuartal I yang sudah mulai banyak dirilis. Bagaimanapun juga earnings merupakan penggerak yang menentukan nasib harga saham dalam jangka panjang, sehingga hal ini perlu lebih mendapat perhatian.

2. Pilkada di berbagai propinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang akan menjadi sentimen baru bagi investor ke depan, dan diikuti dengan Pemilu Presidensial pada 2019.

Beberapa saham yang masih berpotensi selepas pilkada DKI berlangsung, masih dari saham perbankan yang sedang mengalami retracement seperti contohnya BJTM dan BNGA, dan juga sektor mining yaitu batubara yang juga sedang terkoreksi dalam jangka pendek, seperti contohnya HRUM dan ITMG.

Always prepare for the best, and anticipate for the worst. Do not predict and do not hoping, be objective.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed