Follow detikFinance
Jumat 28 Apr 2017, 10:59 WIB

Stok Minyak Sawit Terancam Menipis, Harga Melonjak

Ellen May - detikFinance
Stok Minyak Sawit Terancam Menipis, Harga Melonjak Kelapa Sawit (Foto: dok. GAPKI)
Jakarta - Data IHSG terakhir menunjukkan pelemahan sebesar 0,34% di level 5,707.03. Penurunan ini merupakan koreksi wajar, sebab tidak adanya sentimen positif yang mampu menunjang kenaikan IHSG yang kembali mencetak level tertingginya tersebut.

Sementara itu, Dow Jones pada perdagangan pagi ini, mengalami penguatan tipis sebesar 0,03% ke level 20,981.33, berbanding terbalik dengan EIDO yang justru melemah hingga 0,38% ke level 26.50 hari ini.

Dunia persawitan sempat dipojokkan akhir-akhir ini. Hal ini terutama akibat pernyataan dari parlemen Eropa, yang menyatakan bahwa produksi minyak sawit di indonesia tidak sesuai standar dan merusak iklim dunia.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk melawan pernyataan tersebut? Bagaimana dampaknya terhadap harga CPO? Simak pembahasannya, hanya di #Kopipagi hari ini.

Resolusi sawit dari pemerintahan Eropa, membuat Industri sawit Indonesia kurang bergairah. Untuk itu, pemerintah pun akhirnya mulai menunjukkan bahwa pernyataan dari parlemen Eropa tersebut tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya dan mulai melakukan beberapa pembenahan terkait masalah CPO tersebut.

Salah satu hal yang menjadi masalah dari parlemen Eropa tersebut ialah mengenai kualitas CPO. Untuk itu, pemerintah pun mulai meningkatkan dan memperbaiki kondisi sawit di Indonesia, agar sesuai kriteria dan standar dari ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).

Sertifikasi ISPO ini juga sudah cukup untuk dijadikan acuan internasional bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah dikelola secara berkelanjutan. ISPO juga bisa dijadikan dasar untuk (Indonesian Sustainable Palm Oil) agar bisa menembus pasar dunia, khususnya Eropa dan Amerika.

Sedangkan untuk masalah lingkungan, pemerintah mengatakan sekitar satu juta hektare lahan kelapa sawit di Indonesia akan dialihfungsikan karena terdampak regulasi Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

kini luas lahan sawit di Indonesia berdasarkan data Kementerian Pertanian mencapai 11,9 juta Ha, sebelum adanya regulasi gambut. Dari total 11,9 juta hektare (sawit) ini, satu juta di antaranya bakal harus ditinggalkan oleh pemiliknya karena HGU (Hak Guna Usaha) tidak lagi boleh melanjutkan menanam kembali sawit di areal gambut sesuai PP 57/2016.

Dampak dari peninggalan lahan tersebut diperkirakan akan dapat mengurangi produksi CPO perusahaan cukup besar. Hingga saat ini, Indonesia mampu memproduksi CPO hingga 30 juta ton. Namun, dengan adanya PP tersebut, maka diperkirakan akan dapat mengurangi produksi dan menaikkan harga CPO di Indonesia.

Pergerakan harga CPO sendiri kemarin dibuka dengan kenaikan 0,44% di posisi 2.525 ringgit per ton. Pergerakannya kemudian menguat 0,91% ke level 2.537 ringgit per ton pada pukul 10.37 WIB.

Hal tersebut terutama diakibatkan oleh sentimen penurunan produksi di Indonesia dan juga di Malaysia yang diperkirakan hanya mengalami kenaikan produksi sebesar 2,2% (MoM) padahal sebelumnya diprediksi mampu naik hingga 18,5% (MoM).

Hal ini tentunya akan dapat mempengaruhi pergerakan harga saham-saham di sektor CPO, terutama SGRO AALI dan SIMP.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed