Follow detikFinance
Rabu 24 May 2017, 09:18 WIB

Jelang Pertemuan OPEC, Harga Minyak Merangkak Naik

Ellen May - detikFinance
Jelang Pertemuan OPEC, Harga Minyak Merangkak Naik Pengamat Saham Ellen May (Foto: Istimewa)
Jakarta - Pada pagi ini, harga minyak kembali meningkat menembus angka US$ 51,00. Lalu, akan seperti apakah pergerakan saham-saham perminyakan hari ini? Akankah kembali menguat? Simak ulasan selengkapnya, hanya di #Kopipagi hari ini.

IHSG dalam perdagangan terakhir bergerak melemah -0,33% di level 5,730.61, koreksi ini terutama disebabkan oleh gejolak ekonomi global akibat beberapa kasus pemboman di Manchester dan juga Thailand. Sementara itu, Dow Jones pagi ini masih menguat 0,21% ke level 20,937.91, diiringi dengan pelemahan EIDO hingga -0,77% ke level 27,00.

WTI Berhasil Tembus Level US$ 50

Harga minyak WTI hingga saat ini telah naik dan menembus level US$ 50 per barel, seiring dengan optimisme terhadap negara OPEC dan Non-OPEC yang diperkirakan akan memperpanjang program pemangkasan produksi pada pertemuan Kamis, di Wina, Austria 25 mei mendatang.

Keyakinan tersebut timbul berkat Arab Saudi dan Rusia yang secara de facto merupakan perwakilan dari negara OPEC dan Non-OPEC telah sepakat untuk memperpanjang masa pemangkasan produksi hingga Maret 2018.

Secara garis besar ada 4 faktor utama yang mendukung kenaikan harga minyak dunia ini.
1. Keputusan pemangkasan produksi
2. Pelemahan dolar Amerika
3. Jumlah cadangan minyak Amerika
4. ketegangan politik di Timur Tengah

Pada saat ini, sentimen yang diakibatkan oleh Trump telah mengakibatkan dolar mengalami pelemahan selama beberapa hari berturut-turut. Pelemahan dolar tersebut membuat permintaan untuk barang-barang komoditas yang berdenominasi dolar seperti minyak akan mengalami peningkatan, sehingga menaikkan harga komoditas tersebut.

Sementara situasi di Timur Tengah memanas karena kian runyamnya hubungan antara Arab Saudi dan Iran. Hal ini dikarenakan sebagai salah satu negara dengan produksi minyak terbesar di dunia, bukannya memangkas produksinya, Iran justru menaikkan produksi minyaknya.

Akibat hal tersebut, Arab Saudi terpaksa menutupinya dengan menaikkan pemangkasan produksi hingga 120%, lebih banyak dari yang seharusnya. Bila konflik kian meruncing, harga minyak berpeluang melambung ke area US$ 55-60 per barel pada tahun ini.

Dengan adanya sentimen tersebut, harga minyak WTI diperkirakan akan berpeluang mencapai level tertinggi US$57 per barel pada 2017 sesuai dengan proyeksi rerata harga dari Bank Dunia senilai US$55 per barel.

Namun, kenaikan harga minyak tersebut masih bersifat sementara saja, karena masih dibayangi oleh Amerika Serikat yang akan terus meningkatkan output sehingga menahan harga minyak untuk naik lebih tinggi lagi.

Saat ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada kontrak Juni berada di posisi US$ 51,54 per barel, sedangkan harga minyak Brent untuk kontrak aktif bulan Juli memanjat ke atas US$ 54,22 per barel

Seperti yang telah kita bahas di Live hari Minggu kemarin, walaupun sejak pekan kemarin sektor pertambangan dan batubara menguat, namun hal ini hanya bersifat sementara saja atau temporer. Pergerakan harga saham-saham sektor pertambangan sudah mulai sejak Februari 2016 lalu, sehingga mulai melambat.

Setelah mining, sektor yang sedang bergerak sekarang adalah sektor perbankan dan consumer goods. Hal ini dipicu dari naiknya peringkat utang Indonesia oleh S&P dan juga efek menjelang Lebaran. Sedangkan sektor properti dan konstruksi, masih terlihat diakumulasi.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed