Penurunan IHSG terjadi seiring dengan melemahnya indeks bursa saham Asia, dimana indeks Shanghai dan Hangseng memimpin koreksi sebesar 4.05% dan 3.10%. Adapun penurunan pada indeks bursa Asia tersebut dikarenakan semakin meningkatnya kekhawatiran pasar terkait kenaikan tingkat inflasi AS yang mendorong kenaikan agresif pada tingkat suku bunga The Fed.
Pelaku pasar asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp 1.76 triliun. Nilai tukar Rupiah terdepresiasi 0.17% ke level Rp 13.628 Global Market Sementara itu, Indeks utama bursa Wall Street ditutup dalam zona hijau pada perdagangan akhir pekan kemarin (09/02). Indeks Dow Jones menguat 1.38% ke level 24,190.90, S&P naik 1.49% ke level 2,619.55, dan Nasdaq terangkat 1.44% ke level 6,874.49.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, adanya pidato dari salah satu pejabat The Fed nampaknya mampu menurunkan kekhawatiran pasar terkait kenaikan tingkat inflasi sert rencana suku bunga The Fed tahun ini.
Berikut beberapa rilis data ekonomi AS : Wholesale inventories bulan Desember tumbuh 0.4% sedikit melambat dibanding periode sebelumnya yang tumbuh 0.6% serta data 30-year bond Auction di level 3.12% lebih tinggi dibanding sebelumnya di level 2.86%.
IHSG ditutup melemah sebesar 0.6% ke level 6.505 dengan candlestick bullish. RSI di rasio 50%, Stochastic berpeluang golden cross dan MACD
histogram masih negatif serta trend volume turun.
IHSG diperkirakan bergerak menguat di kisaran 6,460-6,550. (dna/dna)











































