dimana sektor Infrastruktur dan Pertambangan memimpin pelemahan masing-masing 3,20% dan 3,04%. Adapun saham yang menjadi penggerak indeks diantaranya: TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, HMSP.
Penurunan yang terjadi pada indeks dikarenakan antisipasi para pelaku pasar terhadap ketidakstabilan pergerakan Rupiah dimana pada
perdagangan kemarin rupiah Kembali menyentuh Level Rp 13.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelaku pasar asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 772 miliar. Nilai tukar rupiah terapresiasi sebesar 0.06% ke level Rp
13.939.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, indeks utama bursa AS ditutup mixed dengan mayoritas ditutup melemah pada akhir sesi perdagangan semalam. Indeks Dow
Jones naik 0,02% ke level 23.930.15, S&P melemah 0,23% ke level 2.629.73, dan Nasdaq turun 0,18% ke level 0,18% ke level 7.088,15.
Pada perdagangan semalam, indeks AS mayoritas berada di zona merah seiring dengan rilisnya data Balance of Trade AS bulan Maret yang masih
tetap mencatatkan defisit US$ -49 miliar. Meskipun defisit ini turun dibandingkan sebelumnya yang sebesar US$ -57,7 Miliar, nampaknya belum mampu menjadi katalis positif untuk mendorong indeks AS ke zona hijau.
Selain itu, penurunan tersebut juga terjadi di tengah rilisnya data Non farm Productivity kuartal I-2018 yang tumbuh sebesar 0,7% (QoQ) lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang sebesar 0.3% (QoQ).
JCI Prediction
IHSG ditutup anjlok sebesar 2,6% ke level 5.858. IHSG break support dengan indikator Stochastic kembali melemah dan MACD histogram
kembali bergerak ke arah negatif dengan volume turun tipis. Kami memperkirakan IHSG kembali melanjutkan pelemahan dengan pergerakan di
kisaran 5.765-5.905. (ara/ara)











































