Delapan dari sepuluh indeks sektoral berakhir dalam zona hijau, dimana sektor Aneka Industri dan Manufaktur memimpin penguatan masing-masing sebesar 4,60% dan 2,12%.
Adapun saham yang menjadi penggerak indeks diantaranya: BBRI, ASII, INKP, UNVR, HMSP
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu dari dalam negeri kenaikan pada sektor Aneka Industri terdorong penguatan yang terjadi pada saham ASII sebesar 5,34% penguatan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya rilis data penjualan mobil bulan Agustus 2018 yang tercatat naik sebesar 5%.
Pelaku pasar asing mhembukukan aksi beli bersih (Netbuy) sebesar Rp 257 miliar. Nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,13% ke level 14,875.
Sementara itu, indeks utama bursa saham AS bergerak mixed dengan mayoritas menguat terbatas pada akhir perdagangan dini hari (19/09).
Indeks Dow Jones menguat 0.60% dan S&P naik tipis 0.13%. Sedangkan Nasdaq ditutup turun tipis 0.08%.
Indeks Dow Jones naik salah satunya dikontribusi oleh sektor keuangan yang menguat signifikan sebesar 1.8%. Adapun dari sebelas indeks sektoral, tujuh diantaranya ditutup dalam zona merah hal ini dikarenakan meningkatnya imbal hasil Treasury 10 tahun ke level yang cukup tinggi.
Adapun kenaikan imbal hasil ini berkorelasi positif dengan sektor keuangan namun akan memberikan efek negatif pada sebagian besar sektor lainnya terutama sektor utility.
IHSG ditutup menguat sebesar 1.1% ke level 5,873. IHSG ditutup candle bullish dengan indikator Stochastic berpotensi kembali menguat, MACD histogram bergerakke arah positif dengan volume meningkat.
Kami perkirakan IHSG kembali menguat dengan pergerakan di kisaran 5,844-5,949.
Saksikan juga video 'Dolar Menguat, Apa yang Bisa Dilakukan Rakyat Indonesia?':
(dna/dna)











































