Adapun saham yang menjadi pemberat indeks diantaranya: HMSP, BBRI, BMRI, UNVR, GGRM. Beberapa sentimen negatif yang menyebabkan IHSG terkoreksi di antaranya rupiah yang kembali melemah terhadap dolar AS. Hal ini dikarenakan keputusan bank sentral AS, Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga acuannya pada Desember 2018.
Selain itu, rilis data defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang melebar. CAD pada kuartal III/2018 tercatat sebesar 3,37% terhadap PDB atau senilai US$8,8 miliar, melebar dari kuartal II/2018 sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, indeks utama bursa Wall St ditutup dalam teritori negatif pada perdagangan akhir pekan kemarin (09/11). Indeks Dow Jones turun 0.77%, S&P melemah 0.92%, dan Nasdaq tertekan 1.65%.
Penurunan indeks tersebut salah satunya dikarenakan kekhawatiran pasar atas kebijakan apa yang akan dilakukan China selanjutnya untuk memperbaiki data ekonomi Cina bulan Oktober yang menunjukkan inflasi produsen turun untuk empat bulan berturut-turut, hal itu mengindikasikan rendahnya konsumsi domestik, aktivitas manufaktur dan penjualan mobil.
Pelaku pasar khawatir Cina akan semakin agresif dalam perang dagang untuk melindungi ekonomi mereka. Adapun itu rilisnya data Consumer Sentiment bulan November yang di level 98.3 atau diatas perkiraan nampaknya belum mampu menopang indeks ke zona hijau.
IHSG ditutup anjlok sebesar 1.7% ke level 5,874. IHSG ditutup bearish indikator Stochastic berpotensi dead cross, MACD histogram mash bergerak turun dengan volume turun. Kami perkirakan IHSG kembali melemah terbatas dengan pergerakan di kisaran 5,835, - 5,906. (eds/eds)











































