Follow detikFinance
Senin 18 Sep 2017, 07:40 WIB

Alasan Bank Pungut Biaya Isi Ulang Uang Elektronik

Danang Sugianto - detikFinance
Alasan Bank Pungut Biaya Isi Ulang Uang Elektronik Foto: Tim Infografis, Fuad Hasim
Yogyakarta - Rencana Bank Indonesia (BI) mengenakan biaya (fee) saat isi ulang uang elektronik menuai polemik. Banyak pihak yang menolak dan menilai kebijakan tersebut membebani masyarakat, yang tengah didorong mengurangi penggunaan uang tunai.

Perbankan selaku penyedia produk e-Money dituding sebagai pihak yang akan menuai keuntungan jika kebijakan itu diterapkan. Sementara masyarakat sebagai pihak yang menanggung bebannya.

Menurut Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesai (Persero) Tbk (BNI), Ryan Kiryanto, fee atau biaya yang dikenakan sebenarnya sebagai pengganti investasi yang dilakukan perbankan, untuk menyediakan infrastruktur mesin top up dan transaksi e-Money nantinya.

"Kalau fee top up itu sebenarnya kehendak dari industri, karena untuk menyediakan mesin-mesin untuk top up itu kan dibutuhkan investasi," tutur Ryan kepada detikFinance, Minggu (17/9/2017).

Ryan mengatakan, untuk mendukung rencana pemerintah guna menerapkan mendorong less cash society tentu dibutuhkan infrastruktur yang memadai agar masyarakat mudah dan nyaman menggunakannya. Sudah menjadi kewajiban perbankan menyediakannya, namun untuk itu membutuhkan investasi.

"Kita perlu investasi, tapi saya tidak tahu berapa. Kita bisa bayangin untuk beli alat bank itu butuh investasi. Jangan lupa juga Indonesia teramat luas, jangan dibandingkan dengan Singapura yang hanya sebuah pulau kecil," tambahnya.

Dia berpendapat, jika infrastruktur uang elektronik tersedia, maka masyarakat sendiri yang akan menikmatinya. Sehingga menurutnya hal yang wajar jika ada biaya sedikit.

"Itu seolah-olah banknya yang sangat matre, padahal enggak. Itu untuk diinvestasikan beli mesin untuk kemudahan konsumen. Jadi kenikmatan kenyamanan dan keuntungannya kembali ke nasabah," tukasnya.

Pengenaan fee menurutnya juga tidak akan selamanya. Jika investasi yang dikeluarkan perbankan susah tertutupi maka perbankan tidak akan lagi memungut fee top up.

"Best practice (kebijakan) di beberapa negara itu awalnya memang ada semacam fee dengan jumlah yang kecil sesungguhnya. Tapi dibandingkan kenikmatan yang bisa dinikmati oleh konsumen. Nanti begitu sudah siap mungkin fee tidak berlaku lagi, karena mesinnya sudah terpasang semua," katanya.

Ryan mengatakan, Bank Indonesia (BI) sebagai salah satu regulator tentunya membuat kebijakan sesuai dengan kebutuhan para pelaku industri dan masyarakat sebagai konsumen.

Dia berharap sebelum mengambil keputusan BI juga mempertimbangkan perbankan juga membutuhkan investasi dalam hal menyediakan infrastruktur e-Money baik untuk pengisian maupun alat transaksi

"Ya tentu harus ada pertimbangan-pertimbangan. Kebijakannya harus memenuhi kepentingan semua pihak. Banknya, karena dia investasi dia perlu anggaran maka dia pungut fee. Konsumen kalau dia ingin kenikmatan lebih maka harusnya dia rela dong mengeluarkan sedikit fee untuk kenyamanan dia, regulator sebagai wasit menengahi kepentingan konsumen dan banknya," tuturnya.

Ryan memandang suatu hal yang wajar jika perbankan sebagai pihak penyedia jasa memungut sedikit fee untuk menyediakan layanan yang terbaik untuk nasabahnya. Dia juga yakin pungutan yang dikenakan dalam jumlah yang kecil dan tidak membebani nasabah.

"Kalau ternyata lebih nyaman, praktis dan efisien, itu dikompensasi dengan mengeluarkan sedikit fee. Fair dong. Saya kira jadi, kebijakan ini memenuhi kepentingan semua pihak, perbankan, pelanggan dan regulatorn," tambahnya.

Kendati begitu pihaknya dan pelaku industri perbankan lainnya pasti akan mengikuti keputusan yang akan diambil BI nantinya. Namun dia berharap keputusan yang diambil sudah adil bagi semua pihak.

"Ke mana arah regulator bank pasti ikutin. Kalau BI mengatakan bank boleh mengenakan fee ya tentu akan diikuti. Tapi kalau peraturan Dewan Bubernur BI mengatakan dilarang ya tentu bank akan ikut," tukasnya. (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed