Likuiditas Ketat, Dana Perbankan Di SBI Turun Rp 22 Triliun

Likuiditas Ketat, Dana Perbankan Di SBI Turun Rp 22 Triliun

- detikFinance
Selasa, 09 Sep 2008 07:00 WIB
Likuiditas Ketat, Dana Perbankan Di SBI Turun Rp 22 Triliun
Jakarta - Di tengah kondisi likuiditas ketat, perbankan banyak menarik dana yang semula ditempatkan pada instrumen SBI (Sertifikat Bank Indonesia).

Berdasarkan catatan BI, pada akhir Agustus 2008 jumlah dana perbankan pada SBI menurun menjadi Rp 98 triliun dari jumlah SBI pada periode tersebut yang sebesar Rp 164 triliun.

Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Budi Mulya di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin malam (8/9/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada akhir Agustus jumlah dana perbankan di SBI turun menjadi Rp 98 triliun dari posisi akhir Juli 2008 yang sebesar Rp 120 triliun," katanya.

Bahkan jika dibandingkan dengan dana perbankan di SBI pada akhir Januari 2008, penurunannya sangat drastis karena pada akhir Januari 2008 jumlah dana perbankan di SBI adalah sebesar Rp 240 triliun.

Pada tempat yang sama, Deputi Gubernur BI Hartadi mengatakan kondisi ketatnya likuiditas perbankan disebabkan karena ekspansi kredit yang cukup kencang.

"Pada akhir Agustus 2008 kan pertumbuhan kredit sudah mencapai 35%, jadi perbankan kurang likuiditas dan mereka mengambil dari DPK (Dana Pihak Ketiga) dan SBI. Harusnya mereka juga punya amunisi dari SUN," katanya.

Sebab lain ketatnya likuiditas ini dikatakan Hartadi adalah karena penyerapan anggaran pemerintah yang kurang lancar.

"Ekspansi pemerintah sangat besar menyerap penerimaan dari pajak dan lain-lain, tapi pengeluarannya terbatas karena penyerapan kecil, ini jadi salah satu sebab ketatnya likuiditas. Tapi kami harapkan kuartal IV proyek sudah cair," katanya.

Namun menurut Hartadi, kondisi likuiditas yang ketat ini hanya dialami oleh bank-bank besar saja.

"Jadi bank menengah dan kecil justru tidak ada masalah karena depositonya kan atraktif," ujarnya.

Sementara Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad menambahkan, pertumbuhan DPK yang tidak sebesar pertumbuhan kredit juga menjadi penyebab ketatnya likuiditas perbankan.

"Karena itu perbankan harus bisa membuat produk yang lebih menarik, karena sudah banyak instrumen investasi lain saat ini seperti ORI," ucapnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads