Stok Pecahan Rp 1.000 Terbatas

Stok Pecahan Rp 1.000 Terbatas

- detikFinance
Kamis, 11 Sep 2008 14:02 WIB
Stok Pecahan Rp 1.000 Terbatas
Solo - Lebaran tak lengkap tanpa bagi-bagi uang. Penukaran uang pun marak menjelang lebaran. Untuk tahun ini, Kantor Bank Indonesia Wilayah Surakarta menyarankan agar warga tidak menyerbu penukaran uang pecahan Rp 1.000 karena stok yang tervatas.

Kantor Bank Indonesia wilayah Surakarta sejak awal sudah mengkhawatirkan kemungkinan terjadi lonjakan permintaan uang baru pecahan kertas Rp 1.000 menjelang lebaran. Padahal BI sudah tidak mencetak uang pecahan kertas seharga itu.

Deputi Pimpinan Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Internal Bank Indonesia Wilayah Surakarta, Tatung M Taufik memaparkan berdasarkan pengalaman tahun 2007 jumlah permintaan penukaran uang kertas baru Rp 1.000 mencapai Rp 9 miliar. Padahal tahun ini pihaknya hanya menyiapkan Rp 8 miliar untuk penukaran uang kerta Rp 1.000.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini uang kertas Rp 1.000 sangat terbatas. Karenanya kami harap masyarakat dapat memahami kondisi ini dan bersedia menukar ke lembaran Rp 5.000 atau pecahan logam Rp 1.000 jika persediaan uang kertas Rp 1.000 nantinya telah habis,” ujar Tatung, Kamis (11/9/2008).

Peredaran Uang Palsu

Lebih lanjut Tatung juga meminta masyarakat lebih waspada dalam melakukan transaksi maupun penukaran uang untuk mengantisipasi peredaran uang palsu menjelang lebaran. Hal tersebut didasarkan pada tren peningkatan jumlah upal temuan BI Surakarta dalam dua bulan terakhir.

"Dari catatan jumlah uang palsu yang beredar pada bulan Juni 2008 sebanyak 110 lembar dengan nominal Rp6,22 juta. Pada bulan Juli sebanyak 243 lembar dengan nominal Rp 15,35 juta.Β  Sedangkan bulan Agustus 2008, bertambah menjadi 270 lembar dengan nominal Rp 17,84 juta," ujar Tatung.

Dari pengamatan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peredaran uang palsu yang ditemukan BI mengalami kenaikan mendekati lebaran. Karena dalam tren tiga bulan terakhir menjelang lebaran sudah ada peningkatan maka kehati-hatian masyarakat adalah kunci utama menekan peredaran upal tersebut.

"Masyarakat diharapkan semakin teliti dalam bertransaksi, karena telah ditemukannya modus baru pemalsuan uang dengan cara membelah uang asli menjadi dua bagian lalu menempel dengan lembar yang palsu," ujar Tatung.


(mbr/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads