Kantor Bank Indonesia wilayah Surakarta sejak awal sudah mengkhawatirkan kemungkinan terjadi lonjakan permintaan uang baru pecahan kertas Rp 1.000 menjelang lebaran. Padahal BI sudah tidak mencetak uang pecahan kertas seharga itu.
Deputi Pimpinan Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Internal Bank Indonesia Wilayah Surakarta, Tatung M Taufik memaparkan berdasarkan pengalaman tahun 2007 jumlah permintaan penukaran uang kertas baru Rp 1.000 mencapai Rp 9 miliar. Padahal tahun ini pihaknya hanya menyiapkan Rp 8 miliar untuk penukaran uang kerta Rp 1.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peredaran Uang Palsu
Lebih lanjut Tatung juga meminta masyarakat lebih waspada dalam melakukan transaksi maupun penukaran uang untuk mengantisipasi peredaran uang palsu menjelang lebaran. Hal tersebut didasarkan pada tren peningkatan jumlah upal temuan BI Surakarta dalam dua bulan terakhir.
"Dari catatan jumlah uang palsu yang beredar pada bulan Juni 2008 sebanyak 110 lembar dengan nominal Rp6,22 juta. Pada bulan Juli sebanyak 243 lembar dengan nominal Rp 15,35 juta.Β Sedangkan bulan Agustus 2008, bertambah menjadi 270 lembar dengan nominal Rp 17,84 juta," ujar Tatung.
Dari pengamatan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peredaran uang palsu yang ditemukan BI mengalami kenaikan mendekati lebaran. Karena dalam tren tiga bulan terakhir menjelang lebaran sudah ada peningkatan maka kehati-hatian masyarakat adalah kunci utama menekan peredaran upal tersebut.
"Masyarakat diharapkan semakin teliti dalam bertransaksi, karena telah ditemukannya modus baru pemalsuan uang dengan cara membelah uang asli menjadi dua bagian lalu menempel dengan lembar yang palsu," ujar Tatung.
(mbr/qom)











































