RI Waspada, Tapi Tak Panik

Gejolak Pasar Finansial

RI Waspada, Tapi Tak Panik

- detikFinance
Senin, 15 Sep 2008 16:55 WIB
RI Waspada, Tapi Tak Panik
Jakarta - Gejolak pasar finansial AS menimbulkan keresahan di berbagai belahan dunia. Indonesia pun waspada, namun tidak panik. Pemerintah berupaya memberikan penjelasan soal kuatnya kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

"Kita sampaikan bahwa pemerintah dan BI waspada, tapi tidak berarti panik," kata Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/9/008).

Ia menyampaikan hal itu terkait pertemuannya dengan para stakeholder pasar finansial Indonesia, untuk mencari solusi terkait kondisi terkini pasar finansial dunia. Langkah ini sekaligus menanggapi bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of America.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan para analis, kita meng-update kondisi ekonomi kita. Kita juga memberikan penjelasan ke mereka karena banyak sekali dalam suasana guncangan eksternal. Fund manager dan analis cenderung sensitif pada skenario atau berita yang menimbulkan atau adanya potensi kerawanan di negara kita," urai Sri Mulyani.

Pemerintah dan Bank Indonesia memberikan pemapadan mengenai fundamental perekonomian. Seluruh statistik dibuka mulai dari APBN, neraca pembayaran, kondisi perbankan dan likuiditas.

"Kita juga minta mereka tetap tenang dan tetap waspada dan kita bisa bersama menghadapi ini. Kalaupun ada bebarapa persoalan lembaga keuangan dari luar yang kemudian menimbulkan sentimen negatif, seperti  ada uang dari hedge fund ke luar, itu tidak perlu kemudian direaksikan dengan terlalu berlebihan yang kemudian menimbulkan kerusakan lebih besar," jelasnya.

BI juga memberikan penjelasan tentang tindakan moneter untuk menjamin tak ada masalah likuiditas. Pemerintah pun siap memberikan aksi jika memang ada masalah likuiditas.

"Pemerintah dalam hal ini kontribusinya kalau account pemerintah dianggap terlalu banyak di BI yang menyebabkan kita menyedot uang dari perekonomian terlalu banyak, maka kita melakukan beberapa tindakan seperti mempercepat pencairan, menempatkan dana pemerintah di dalam perbankan yang memang dipakai untuk pembayaran-pembayaran sehingga uang itu bisa beputar lagi sehingga tensi atau suhu perekonomian yang berasal dari faktor likuditas itu tidak menjadi persoalan," urainya.

Pemerintah dan BI akan terus memantau masalah likuiditas ini agar nantinya tidak digunakan untuk spekulasi terutama untuk amta uang. Menurut Sri Mulyani, BI sudah memberikan penjelasan bahwa neraca pembayaran RI aman, sehingga spekulasi mata uang tidak perlu terjadi.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga meminta agar para analis dan pelaku pasar tidak memberikan pernyataan yang bisa menimbulkan kepanikan.

"Saya meminta pada fund dan analis ahwa anda kalau membuat kuotasi berdasarkan suatu basis. Karena kalau ekonomi ini sama2 mau dibuat panik mau rusak kita semua malah rugi.  Kalau kita sama sama menjaga ketenangan ini dengan kewaspadaan maka tidak perlu terjadi yang disebut overshoot itu," cetusnya.

Dengan berbagai perkembangan ini, Sri Mulyani tetap optimistis target inflasi bisa tercapai. Untuk tahun ini kisaran inflasi adalah 11,5%, namun untuk tahun depan diharapkan turun menjadi 6%.

"Apalagi sekarang dengan harga komoditas yang turun, kita lebih optimis untuk mendapatkan angka yang lebih baik," pungkasnya.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads