Direktur Bank Mandiri Abdul Rachman mengatakan, pelaksanaaan restrukturisasi utang macet ini merupakan program akselerasi perbaikan rasio kredit macet (Non Performing Loan/NPL).
"Dengan Bank Mandiri kesepakatannya akan ditandatangani minggu ini," jelasnya di acara buka puasa bersama di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa malam (16/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bosowa dan BNI telah mencapai kesepakatan restrukturisasi debitor macet dengan nominal Rp 584 miliar. Sehingga, Bosowa bisa mencicil utang sampai 2013 dengan bunga komersial 12%.
Menurutnya, setelah melakukan negosiasi panjang, perseroan telah menemukan titik temu kesepakatan dengan Bosowa. Kesepakatan ini untuk menyelesaikan kredit macet yang hingga kini membebani kinerja keuangan kedua perusahaan.
"Bosowa minggu ini akan signing, kalau tidak hari Kamis hari Jumat. Nanti akan ada pembayaran dan sisanya akan diatur lagi pembayarannya. Misalnya tahun ini akan dibayar sekitar 10%, kalau dia mampu IPO tahun depan akan ada pembayaran lebih besar. Jika tidak atau mundur IPO-nya akan ada pembayaran 10% lagi. Total pinjamannya sekitar Rp1,1 triliun," jelas Abdul.
Pemberian kapasitas restrukturisasi ini menurut Abdul Rachman didasari perbaikan kinerja Bosowa. Sebagai salah satu pemasok semen di kawasan timur Indonesia, industri semen Bosowa meningkat pesat.
Bahkan, saat ini Bosowa sudah percaya diri untuk melakukan IPO guna mendapatkan tambahan dana bagi pelunasan utang dan perbaikan kinerja. "Karena sebenarnya industrinya bagus," tegas Abdul.
Rasio NPL
Pada Kesempatan sama, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo menyatakan perbaikan rasio NPL Mandiri sudah berjalan baik. Bahkan, saat ini posisi Nett NPL perusahaan pelat merah ini sudah berada di bawah 1% atau sekitar 0,9%. Dengan kesepakatan baru ini dipastikan rasio NPL di triwulan III-2008 akan semakin kecil. (ang/ir)











































