BI akan menyerahkan pilihan menukar uang kepada masyarakat, apakah lebih memilih inang-inang dengan tidak mengantri atau menukarnya kepada BI melaluin loket-loket kas berjalan yang disiapkan oleh BI dan bank-bank umum.
"Mereka itu kan cari makan, prinsipnya kita menyediakan loket kalau mau ngantri itu terserah konsumen, saya kira itu pilihan dari konsumen," kata Deputi Gubernur BI Budi Rochadi dalam acara konferensi pers di gedung BI, Jakarta, Rabu (17/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau yang seperti itu lain ceritanya, kalau tidak terlalu, jadi enggak masalah, kecuali kalau itu terbatas sebelum kas tutup sudah habis itu jadi masalah," ucapnya.
Diakuinya, transaksi uang dengan membayar uang, semacam yang dilakukan oleh inang-inang menurutnya hanya terjadi di Indonesia saja di negara lain umumnya tidak ada.
"Kalau masyarakat kita itu macam-macam, ditempat lain saya kira tidak ada yah," ucapnya.
Seperti diketahui, bahwa fenomena inang-inang sudah menjadi trend di masyarakat sebagai sarana penukar uang receh yang efektif tanpa harus mengantri di bank. Meskipun si penerima jasa akan sedikit mengeluarkan uang tambahan hingga 10% dari uang yang ditukarnya.
Di Jakarta, lokasi menjamurnya Inang-inang terdapat di beberapa titik seperti kawasan kota tua stasion kota, Kawasan Jatinegara, Pasar Baru, terminal-terminal dan lainnya.
(hen/qom)










































