Hal ini dikatakan oleh Ekonom Standart Chartered Bank Fauzi Ichsan usai acara buka puasa bersama di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu malam (17/9/2008).
"Sebetulnya tergantung BI Rate-nya mau kemana, yang dilakukan BI itu adalah memperkecil band, batas atas dan batas bawah placement dan lending facility-nya BI, selama BI Rate stabil bagus, tapi kalau BI Rate-nya naik terus ya dampaknya tidak akan terasa dan kelihatannya BI Rate akan naik terus," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ada sisi perbankan yang kesulitan likuiditas karena beberapa hal, pertama karena BI Rate naik, sejak Mei BI Rate naik dari 8% menjadi 9,25%. Lalu kedua memang pertumbuhan kredit cepat sekali, tahunan saja sudah di atas 33%, lalu masalah likuiditas global yang terganggu sehingga menyebabkan funding cost perbankan menjadi mahal, kan ada perang bunga. Sekarang tinggal pilih apakah mau menyelamatkan sisi makro yaitu inflasi dan nilai tukar atau membantu perbankan, jadi dilematis," katanya.
Melihat dilema ini, Ichsan berpendapat otoritas moneter harus memperhatikan sisi makro. "Karena kalau rupiah jebol dan inflasi terakselerasi yang dirugikan seluruh rakyat Indonesia, tapi kalau likuiditas ketat yang terkena adalah sektor perbankan. Apakah sektor perbankan akan bangkrut, ya kita lihat semester I-2008 profitabilitas perbankan baik, dan kredit baik," katanya.
Jadi diungkapkannya sebetulnya perbankan masih memiliki bantalan (buffer) untuk menghadapi likuiditas yang ketat untuk 3-6 bulan ke depan.
"Jadi sebetulnya likuiditas ketat ini juga akibat kegiatan perbankan yang agresif juga, jadi tidak bisa otoritas moneter BI disalahkan," ujarnya.
(dnl/ir)











































