Pemerintah AS Pakai Standar Ganda Selesaikan Krisis Keuangan

Pemerintah AS Pakai Standar Ganda Selesaikan Krisis Keuangan

- detikFinance
Jumat, 19 Sep 2008 11:47 WIB
Pemerintah AS Pakai Standar Ganda Selesaikan Krisis Keuangan
Washington - Beberapa ekonom menuding pemerintah Amerika Serikat menerapkan standar ganda dalam menyelesaikan krisis keuangan global.

Pemerintah AS dulu mengkritik habis-habisan pemerintah Asia yang mencoba menyelamatkan (bail-out) perusahaan-perusahaan yang tengah kolaps saat krisis ekonomi tahun 1997-1998 lalu. Perusahaan itu dibiarkan mati darah tanpa ada upaya penyelamatan.

Namun kini, pemerintah AS mudah sekali memberi bantuan penyelamatan bagi perusahaan-perusahaan di AS yang lagi sekarat karena terkena krisis subprime mortgage.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mencegah perusahaan asuransi AIG dari kebangkrutan, bank sentral AS menyuntik senilai US$ 85 miliar. Sebelumnya pemerintah AS juga memberikan US$ 200 miliar kepada perusahaan Fannie Mae dan Freddie Mac

Upaya penyelamatan ini dinilai ekonom, kontras dengan apa yang disuruh Amerika kepada negara Asia sepuluh tahun yang lalu. Inilah beberapa alasan yang membuat ekonom menuding AS telah menerapkan standar ganda.

Menanggapi hal ini mantan Kepala Ekonomi IMF Raghuram Rajan mengatakan upaya pemerintah AS ini dilakukan untuk menghadapi serangan spekulasi terhadap perusahaan keuangan AS yang tengah jatuh.

"Sangat wajar jika pemerintah masuk dan mengatakan kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi," ujar Rajan yang menjabat kepala ekonom IMF pada 2003-2006 ini seperti dikutip AFP, Jumat (19/9/2008).

Sementara itu sepuluh tahun lalu misalnya ketika Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan bantuan kepada Korsel senilai US$ 20 miliar, IMF meminta Korsel tidak mem-bailout perusahaan yang kolaps.

"Washington mengikuti skenario berbeda saat ini," ujar ekonom Yung Chul Park seperti dikutip New York Times.

Krisis AS dan Asia memang awalnya tidak sama. Krisis Asia terjadi karena masalah dalam mata uangnya. Krisis terjadi karena nilai mata uang yang melambung tinggi, sedangkan krisis di AS dipicu masalah kredit perumahan.

Namun ekonom lain berpendapat berbeda, penyelamatan perusahaan AS sekarang perlu untuk menjaga sistem keuangan global. Jika perusahaan itu dibiarkan bangkrut, maka akan menular ke perusahaan lain di belahan dunia lainnya.

"Saya kira pemerintah AS telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah AIG bangkrut. Karena jika AIG bangkrut maka yang paling dirugikan adalah bank di Eropa, karena mereka lah nasabah utama AIG," ujar Nicholas Lardy, ahli dari Peterson Institute for International Economics.

"Anda melihat insitusi yang merupakan jantung dari pusat sistem keuangan global," ujarnya sambil membandingkan dengan krisis Asia. (ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads