"Kami merevisi target pertumbuhan kredit dari sebelumnya 20% menjadi 14%," ungkap Presiden Direktur BNGA, Hashemi Albakri, Senin (22/9/2008).
Awalnya BNGA optimistis semester II pertumbuhan kredit akan baik, mengingat pada semester I BNGA mencatat pertumbuhan kredit 36% menjadi Rp 46,4 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 29,8 triliun. Namun pada semester II 2008 terjadi perlambatan pertumbuhan kredit karena semakin tingginya biaya kredit akibat kenaikan BI rate.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Hashemi menambahkan, penurunan target juga disebabkan faktor global terutama tidak stabilnya pasar keuangan dunia. Menurutnya hal itu ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brother, sebuah perusahaan sekuritas terbesar di Amerika Serikat.
"Bangkrutnya Lehman Brother ternyata berimbas bagi BNGA. Gejolak pasar tadi membuat pertumbuhan kredit akan menurun," ujarnya.
"Pasar perbankan tidak bisa dipisahkan dari pasar global. Maka, ketidakstabilan pasar global sangat rentan pengaruhnya pada ekonomi dalam negeri dan terlebih pada sektor perbankan. Terkait dengan krisis likuiditas perbankan di pasar tersebut, maka dengan situasi ini pemberian kredit akan dipersempit," imbuhnya. (dro/ir)











































