Fasilitas Dana Repo BI Laris Manis

Fasilitas Dana Repo BI Laris Manis

- detikFinance
Selasa, 23 Sep 2008 08:52 WIB
Fasilitas Dana Repo BI Laris Manis
Jakarta - Keadaan likuiditas perbankan yang ketat membuat fasilitas repo Bank Indonesia cukup laku digunakan perbankan sebagai alternatif sumber likuiditas, apalagi BI sudah menurunkan repo rate 200 bps.

Setelah akhir minggu lalu BI melakukan injeksi dana kepada perbankan melalui fasilitas repo bertenor 6 hari sekitar Rp 4,5 triliun, hari Senin (22/9/2008), BI kembali menginjeksi likuiditas perbankan melalui repo ini sekitar 4 triliun lebih dengan tenor yang lebih panjang yaitu 14 hari.

Hal ini dikatakan oleh Gubernur Bank Indonesia Boediono ketika ditemui usai rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (22/9/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Repo memang kita buka menjelang Lebaran ini, saya lupa angkanya (hari ini) saya kira sekitar Rp 4 triliun lebih. Jadi memang kebutuhan likuiditas menjelang Lebaran ini kan cukup tinggi, kita memberikan injeksi dengan beberapa langkah, saya rasa nggak perlu saya sebutkan lagi (repo). Minggu kemarin kita serap sekitar Rp 4,5 triliun," tuturnya.

Boediono mengatakan alasan BI membuka fasilitas repo ini adalah karena kebutuhan likuiditas perbankan yang tinggi menjelang Hari Raya. "Nanti setelah Hari Raya likuiditasnya kembali lagi," katanya.

Dikatakannya untuk membantu likuiditas perbankan yang tengah ketat saat ini, BI sedang mengkaji untuk membuat fasilitas repo dengan tenor lebih panjang, yaitu sampai 3 bulan.

"Ada rencana kita membuat suatu fasilitas repo yang lebih panjang, sampai bisa 3 bulan, nanti akan kita pertimbangkan, sekarang sedang dalam pembahasan," jelasnya.

Boediono menjelaskan, proses injeksi melalui repo ini tidak berpengaruh kepada cadangan devisa BI. "Cadangan devisa kita masih aman. Kita lihat kurs stabil, kita tidak terlalu mengeluarkan banyak, kita tetap akan di pasar," ucapnya.

Dia membantah kalau fasilitas repo ini dioptimalkan BI lebih karena situasi likuiditas global yang ketat. "Kalau global terjadi di negara-negara yang sistem kreditnya macet. Di negara kita malah kredit tumbuh 35% bulan ini, jadi masalahnya berbeda dengan kita," ungkapnya.

Untuk jangka menengah, Boediono menjelaskan BI ingin mencapai sasaran inflasi yang baik, oleh sebab itu kebijakan moneter jangka menengah harus tetap menjaga likuiditas terukur, tidak berlebihan, tapi juga tidak kurang.

"Kita tidak akan melonggarkan dalam arti berlebihan, dalam masa-masa seperti ini memang dibutuhkan likuiditas tambahan, menjelang Lebaran. Nanti setelah Lebaran uang akan masuk lagi ke bank," katanya. (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads