Industri Keuangan RI Masih Cukup Kuat Menahan Guncangan

Industri Keuangan RI Masih Cukup Kuat Menahan Guncangan

- detikFinance
Kamis, 02 Okt 2008 15:56 WIB
Industri Keuangan RI Masih Cukup Kuat Menahan Guncangan
Jakarta - Ditengah kondisi lembaga keuangan global yang sedang dilanda kekisruhan, ketahanan industri keuangan di Indonesia masih cukup baik dalam menahan dampak dari krisis sektor keuangan global. Indikator keuangan perbankan menunjukkan daya tahan yang cukup baik.

Demikian disampaikan oleh Ketua FSSK (Forum Stabilitas Sistem Keuangan) Raden Pardede, ketika ditemui di kediaman Menko Perekonomian Sri Mulyani, Komplek Widya Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (1/10/2008).

"Ketahanan industri keuangan kita sekarang masih baik, dampak dari global ada di pasar keuangan, kalau ke sistem keuangan, di lembaga keuangan, kita lihat dari sisi modalnya masih kuat, kemudian juga dari sisi NPL tidak besar. CAR perbankan juga sangat baik," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Raden menambahkan, Indonesia tak perlu khawatir kondisi di AS akan terjadi di Indonesia. Ini karena produk-produk derivatif seperti subprime mortgage belum begitu berkembang di Indonesia.

"Produk-produk derivatif yang dipotong, dibungkus, dipaketkan yang disebut subprime, yang kadang disebut toxic asset, itu belum begitu berkembang di Indonesia. Kita bersyukur memang produk itu tidak dikeluarkan oleh lembaga keuangan kita," katanya.

Meski demikian, lanjut Raden, Indonesia tidak boleh lengah dalam menyikapi setiap perkembangan yang ada saat ini.

"Kita nggak boleh lengah karena namanya tsunami, walau episentrum di AS, ombaknya kita alami. Kita terkoreksi. Mudah-mudahan tsunami tidak terus menerus, dimana tsunami itu di luar kontrol kita dan global akan mengalami itu," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sofyan Basyir mengatakan masyarakat Indonesia tidak perlu panik dengan guncangan ekonomi di sektor keuangan AS.


"Menurut hemat kami, dampak di AS tidak signifikan, masyarakat tidak perlu panik karena perbankan kita masih sangat konvensional, produk derivatif belum berjalan sehingga dampaknya bisa kita hindari," katanya.

Tapi Sofyan mengakui dengan situasi saat ini, perbankan nasional mengalami gangguan dari sisi pendanaan akibat dampak dari kondisi likuiditas yang ketat.

"Tapi untuk kredit, yang sudah ada komitmen tidak bisa kita tahan, namun untuk kredit-kredit konsumer yang baru itu bisa kita tahan," ujarnya.

BRI sendiri dengan kondisi likuiditas yang ketat saat ini masih optimistis target kreditnya sampai akhir tahun 2008 masih akan tercapai dengan outstanding Rp 143-146 triliun.

"Kan repo belum digunakan untuk BRI, missmatch mudah-mudahan tidak terjadi karena semua sudah kita perhitungkan," jelas Sofyan.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads