Â
"Kalau dilihat harga komoditas sekarang turun, berarti ke depan inflasi turun. Demikian juga dengan nilai rupiah yang menurun, seharusnya tidak perlu reaktif seperti ini karena rupiah tidak bisa ditangani dengan SBI. Ini hanya sementara," ujar pengamat perbankan Aviliani disela diskusi Indef di restoran Bebek Bali, Jakarta, Rabu (8/10/2008).
Permintaan Aviliani ini sejalan dengan ekspektasi yang timbul di pasar global saat ini yang meminta adanya penurunan suku bunga secara terkoordinasi oleh bank sentral dunia untuk mengatasi krisis keuangan global.
Setelah bank sentral Australia menurunkan suku bunga, China dan Hong Kong dikabarkan akan segera menurunkan suku bunganya pada pekan ini. The Fed pun sudah memberikan sinyal penurunan harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bantuan likuiditas, menurut Aviliani, bisa dilakukan dengan 3 cara. Pertama, yaitu menurunkan Giro Wajib Minimum. Kedua, menggunakan dana APBN yang sementara ini belum terserap untuk ditaruh di perbankan. Ketiga, mempertemukan bank-bank yang kelebihan likuiditas dengan yang kekurangan likuditas.
Â
"Sebenarnya masih ada bank-bank yang kelebihan likuiditas, dan BI sebenarnya bisa membantu mempertemukan antara bank yang kekurangan dan kelebihan likuiditas," ujarnya.
Ia menyayangkan keputusan BI menaikkan BI rate menjadi 9,5% karena justru akan membuat kucuran kredit menjadi seret.
Sementara itu pemerintah harus mewaspadai masuknya aliran dana secara besar-besaran dari luar negeri dalam dua bulan ke depan. Jika tidak dibatasi, Indonesia bisa terseret badai krisis lebih cepat dari yang diperhitungkan.
Â
"Bubble ekonomi terjadi karena dana portofolio yang besar. Dan dalam dua bulan lagi bisa terjadi aliran dana masuk yang banyak karena investor AS akan mencari negara-negara emerging untuk menanamkan uangnya," katanya.
(lih/ddn)











































