Penerbitan SUN Dikurangi Karena Krisis Global

Penerbitan SUN Dikurangi Karena Krisis Global

- detikFinance
Senin, 13 Okt 2008 13:09 WIB
Penerbitan SUN Dikurangi Karena Krisis Global
Jakarta - Situasi pasar keuangan bergejolak, pemerintah menurunkan target rencana penerbitan SUN (Surat Utang Negara) neto dari kesepakatan semula Rp 103,5 triliun menjadi Rp 54,7 triliun atau turun Rp 48,8 triliun.

Hal tersebut disampaikan Menkeu/Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR RI, di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (13/10/2008).

"Dengan krisis global yang terjadi saat ini, perlu segera dilakukan penyesuaian APBN 2009 antara lain penurunan penerbitan SBN sesuai kondisi pasar dan pergeseran sumber-sumber pembiayaan, karena itu SUN kita kurangi sebesar Rp 48,8 triliun" katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah menurunkan target penerbitan SBN di 2009 karena turunnya minat investor terutama turunnya minat investor dari AS dan Eropa yang selama ini menjadi pembeli terbesar yaitu 65 persen dari penerbitan global bond pemerintah. Kemudian, investor asing yang membeli SUN rupiah akan mengurangi pembeliannya. Selain itu perbankan nasional akan membutuhkan likuiditas untuk memberikan kredit.

Untuk menutup pembiayaan defisit yang diusulkan pemerintah sebesar 1,3 persen di 2009, Sri Mulyani mengatakan SILPA (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) yang akan terjadi di 2008 akibat tingginya penerimaan akan menjadi sumber pembiayaan defisit di 2009.

"Lalu RDI yang seharusnya ditarik tahun ini menjadi tidak urgent karena penerimaan yang cukup tinggi, jadi RDI Rp 3 triliun yang seharusnya ditarik tahun ini akan digunakan tahun depan karena pressure pembiayaan yang besar," tuturnya. Β 

Dengan ditekannya rencana penerbitan SUN di 2009 maka pemerintah menaikkan rencana penarikan pinjaman dari luar negeri baik itu pinjaman program, pinjaman proyek ataupun penerbitan sukuk. Oleh karena itu pemerintah mengusulkan pinjaman luar negeri netto naik Rp 19,6 triliun menjadi Rp 9,2 triliun.

"Alternatif pembiayaan dari lembaga multilateral dan investor institusi di luar negeri dimungkinkan karena ketersediaan pinjaman program untuk pembiayaan defisit, lalu peminat dari penerbitan sukuk sangat besar.

(dnl/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads