Meningkatnya risiko eksternal terkait meluasnya dampak perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian kondisi sektor keuangan AS mendorong investor asing menarik dananya dari SBI, meskipun pada SUN dan saham masih meningkat.
Namun terjaganya kepercayaan asing terhadap pengelolaan kebijakan makro dan tingginya imbal hasil SUN masuknya mendorong arus modal ke SUN. Kepemilikan asing pada instrumen SUN meningkat Rp 10,13 triliun (US$ 1,11 miliar) menjadi Rp 104,23 triliun (US$ 11,15 miliar), sehingga total posisi penempatan asing di SBI dan SUN tercatat sebesar Rp 124,6 triliun (US$ 13,33 miliar).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kurang kondusifnya kondisi di pasar saham justru dimanfaatkan oleh asing untuk mengakumulasi saham-saham murah. Walaupun dengan intensi yang makin terbatas, investor asing masih terus melakukan pembelian secara selektif terhadap saham-saham di IHSG.
Net beli asing pada triwulan III-2008 tercatat sebesar Rp 2,2 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan II-2008 dengan net beli sebesar Rp 4,8 triliun. Penurunan tersebut searah dengan perdagangan saham yang turun dari Rp 5,7 triliun pada triwulan II-2008 menjadi Rp3,8 triliun pada triwulan III-2008.
Kondisi pada triwulan III-2008, juga ditandai dengan perpindahan portfolio asing ke saham sektor keuangan yang mengalami koreksi lebih kecil. Kondisi tersebut tidak terlepas dari naiknya risiko saham berbasis komoditas.
Demikian laporan Perkembangan Ekonomi Triwulan III-2008 yang dikutip detikFinance dari situs BI, Rabu (15/10/2008).
Pergerakan Rupiah
Untuk pergerakan rupiah, meski mengalami depresi di akhir triwulan III-2008, namun jika diambil rata-rata ternyata masih tercatat menguat. Rata-rata nilai tukar pada triwulan-III 2008 terapresiasi 0,47% dari Rp 9.259 pada triwulan II-2008 menjadi Rp 9.216 per dolar AS.
Namun jika dilihat dari sisi angka penutupan per triwulan III-2008, terjadi pelemahan 1,76% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dari Rp 9.220 per dolar AS pada akhir triwulan II-2008 menjadi Rp 9.385 per dolar AS pada akhir triwulan III-2008.
Sementara itu pergerakan nilai tukar selama triwulan III-2008 cenderung berfluktuasi sejalan dengan meningkatnya tekanan rupiah di akhir periode laporan. Volatilitas rupiah pada triwulan III-2008 tercatat lebih tinggi yaitu sebesar 1,11 %, dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,61%.
Permintaan valas dalam negeri masih didominasi oleh permintaan valas korporasi. Meningkatnya impor mendorong terjadinya peningkatan permintaan valas korporasi khususnya BUMN. Secara rata-rata, permintaan valas korporasi pada triwulan laporan sedikit lebih tinggi mencapai sekitar US$ 354 juta per hari, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai sekitar US$ 329 juta per hari.
(qom/ir)











































