Asia Tenggara Siapkan 'Crisis Fund'

Asia Tenggara Siapkan 'Crisis Fund'

- detikFinance
Rabu, 15 Okt 2008 16:25 WIB
Asia Tenggara Siapkan Crisis Fund
Manila - Negara-negara Asia Tenggara dengan dukungan dari Jepang, China dan Korea Selatan sedang menyusun sebuah lembaga 'Crisis Fund' yang mengelola puluhan miliar dolar untuk membeli utang-utang macet dan membantu kawasan tersebut keluar dari krisis.

Demikian disampaikan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo dalam pidatonya di Istana Presiden di Manila, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (15/10/2008).

"Fasilitas itu dapat digunakan untuk membeli apa yang disebut para bangkir sebagai aset-aset beracun dan merekapitalisasi institusi finansial yang bermasalah dan juga perusahaan swasta," ujar Arroyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arroyo menambahkan, 10 negara ASEAN plus Jepang, China, Korsel, ADB dan IMF akan berkontribusi dalam 'crisis fund' itu. Untuk tahap awal, Bank Dunia sudah berkomitmen untuk menyediakan US$ 10 miliar untuk 'Crisis Fund' itu.

Menurut Arroyo rencana tersebut terungkap dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington akhir pekan lalu. Detail dari rencana ini sedang dikerjakan.

Bank Dunia dan IMF, dengan bantuan para menteri keuangan ASEAN serta para Gubernur Bank Sentralnya akan membuat draf untuk mekanisme implementasi pencairan dana tersebut, namun diharapkan dengan syarat kondisi yang minimal.

"ASEAN plus 3 dan lembaga multilateral menyambut baik prakarsa kami tidak hanya dalam menyediakan akses untuk pendanaan namun yang lebih penting adalah meningkatkan kepercayaan dari negara-negara ASEAN," ujar Arroyo.

Pemerintah di seluruh dunia secara total telah memberikan komitmen hingga US$ 3,2 triliun dalam berbagai skema untuk melawan krisis finansial terburuk dalam satu dekade terakhir.

Namun para analis menilai, tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk merekapitalisasi bank-bank atau perusahaan di Asia, karena sangat sedikit yang terkena dampak krisis dari Barat meski pasar sahamnya ikut kena pengaruh besar. Namun keberadaan sebuah lembaga pendanaan darurat diharapkan bisa mencegah setiap potensi krisis dan meningkatkan kepercayaan.

"Kami tidak memperkirakan skenario krisis dimana pemerintah harus melakukan rekapitalisasi. Tidak ada tekanan kebutuhan di Asia untuk lembaga semacam itu. Namun ini adalah perkembangan yang baik sebagai persiapan negara-negara Asia Tenggara untuk memelihara dengan baik setiap permasalahan perbankan yang terjadi," ujar Ritesh Maheshwari, analis dari  Standard & Poor's.

Arroyo menambahkan, ASEAN plus 3 akan menggelar pertamuan 'Asia-Europe Summit' di Beiking pekan depan untuk mendiskusikan bagaimana dampak krisis ke ASEAN.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads