Ini dikarenakan sulitnya mencari pendanaan baik melalui IPO atau menjual obligasi lewat pasar, bahkan kredit perbankan pun saat ini suku bunganya sudah cukup tinggi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Stabilisasi Sektor Keuangan Raden Pardede dalam seminar "Krisis Keuangan di AS: Dampaknya Bagi Ekonomi Dunia, Bisnis dan Indonesia" di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhirnya perusahaan-perusahaan kita akan sulit menerbitkan bond atau melakukan IPO karena tidak ada likuiditas, jadi forget about bond dan IPO pada saat ini," tuturnya.
Raden mengatakan krisis sektor keuangan di AS lambat laun memang akan terasa imbasnya kepada sektor riil terutama terhambatnya ekspansi usaha perusahaan karena likuiditas yang ketat.
Bahkan Raden memberikan judul pada makalahnya mengenai gejala tersebut yaitu "From Wall Street to Mango Two (Mangga Dua)" yang menggambarkan bagaimana krisis ini akan berpengaruh terhadap sektor riil.
"Memang sangat ironis, di saat krisis muncul di AS justru banyak dana saat ini bahkan dari emerging market yang beralih kepada treasury bills yang mengakibatkan treasury bills naik dan cost of fund kita naik. Apalagi karena hancurnya kredit akibat subprime mortgage memunculkan ketidakpercayaan bank untuk mengucurkan kredit. Hal ini menyebabkan investor beralih kepada money market dan treasury bills," paparnya.
Semua hal ini dikatakan Raden membuat yield (imbal hasil) SUN pemerintah naik drastis di pasar, dan tentu saja perusahaan tidak bisa mencari dana lewat obligasi karena pasti harganya mahal.
"Namun dengan berbagai kebijakan pelonggaran likuiditas yang dikeluarkan oleh pemerintah dan BI diharapkan bisa memecahkan masalah yang terjadi, tapi bukan berarti masalah selesai, saya bukan menakut-nakuti. Oleh karena itu fiskal harus siap melakukan counter cyclical," katanya. (dnl/ddn)











































