"Kami tidak mengantisipasi pembentukan fasilitas regional dan belum mendiskusikan komitmen pendanaan di tingkat regional," ujar Jim Adams, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur seperti dikutip dari Reuters, Kamis (16/10/2008).
Presiden Arroyo sebelumnya mengatakan, ASEAN+3 sedang menyusun sebuah lembaga 'Crisis Fund' yang mengelola puluhan miliar dolar untuk membeli utang-utang macet dan membantu kawasan tersebut keluar dari krisis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arroyo menambahkan, 10 negara ASEAN plus Jepang, China, Korsel, ADB dan IMF akan berkontribusi dalam 'crisis fund' itu. Untuk tahap awal, Bank Dunia sudah berkomitmen untuk menyediakan US$ 10 miliar untuk 'Crisis Fund' itu.
Adams menegaskan, Bank Dunia memang melakukan pembicaraan dengan beberapa negara selama pertemuan akhir pekan lalu di Washington. Namun pembicaraan hanya difokuskan pada cara yang memungkinkan bagi Bank Dunia untuk mencegah krisis menyebar ke wilayah tersebut.
Ia menambahkan, perekonomian Asia Tenggara masih cukup kuat, namun harus tetap waspada menghadapi meluasnya masalah pengetatan likuiditas.
Menkeu Sri Mulyani Indrawati sebelumnya juga mengatakan, 'Crisis Fund' tersebut merupakan kelanjutan dari 'Prakarsa Chiang Mai' atau 'Chiang Mai Initiative' (CMI) yang pernah dirintis oleh ASEAN+3.
Beberapa waktu lalu, belajar dari krisis keuangan yang mendera Asia pada tahun 1997-1998, negara di Asia akhirnya sepakat membentuk skema perlindungan mata uang dengan pertukaran devisa yang disebut Chiang Mai Initiative (CMI), skema ini berupa bilateral swap agreement (BSA). (qom/ddn)











































