Demikian diungkapkan ketua umum Asosiasi Bank Daerah Seluruh Indonesia (Asbanda) Winny E. Hassan di sela-sela rapat koordinasi Direktur Utama dan Direktur pemasaran BPD Seluruh Indonesia Jumat (17/10/2008) di Hotel Aryaduta, Jl Diponegoro, Pekanbaru.
Ia menjelaskan, BPD justru siap memberikan solusi dii tengah kekhawatiran masyarakat akan tersumbatnya keran kredit pada proyek-proyek besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia yang tergabung dalam Asbanda kini menerobos dalam jajaran 5 bank besar di Indonesia, setelah Bank Mandiri, Bank BCA, BRI dan BNI.
Untuk itu belum lama ini Wakil Presiden Jusuf Kalla mengundang para pimpinan BPD dan meminta untuk turut serta dalam membantu Kementerian Pekerjaan Umum menyediakan fasilitas pembiayaan beserta bank-bank besar yang lain.
Iimbauan Wakil Presiden tersebut terutama untuk mengamankan proyek-proyek vital seperti proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt dan 10 juta Sambungan air minum untuk perumahan. Kedua proyek tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Menurut Winny, saat ini BPD telah menerima tawaran untuk membiayai sebagian dari proyek-proyek tersebut senilai Rp. 3,4 triliun. Di antaranya untuk pembangunan pembangkit listrik di Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
Untuk proyek penambahan 10 juta sambungan air minum rumah tahun 2009-2013 untuk di 459 kota, rencananya akan membutuhkan investasi sebesar Rp. 78,41 triliun yang sedianya akan dipenuhi dengan pola pembiayaan equity, pinjaman dari bank, trade credit, kerjasama pemerintah dan swasta serta dari penerbitan obligasi.
Winny mengakui, gejala umum yang terjadi sekarang kurang menguntungkan bagi proyek-proyek raksasa. Saat ini likuiditas menjadi kian sulit, ekspansi kredit terpaksa tertahan, serta terjadi gejolak bursa saham. Itu semua merupakan buntut dari krisis keuangan akibat subprime mortgage yang sedang melanda negeri paling berpengaruh di dunia, yakni Amerika Serikat.
"Yang paling penting tentunya kita mesti menyamakan persepsi, melakukan fine tuning sense of crisis di frekuensi yang sama. Karena dengan begitu kita akan mampu melangkah, berdaya upaya dengan lebih baik dan harmonis," katanya.
Meski episentrumnya jauh di AS, getaran ekonominya sempat mengguncang pasar modal hingga memaksa otoritas nasional untuk men-suspend perdagangan selama 3 hari. Namun Bank BPD relatif aman karena tidak banyak terkait dengan investasi luar negeri.
"Dan semoga tak lama lagi, untuk tahun-tahun mendatang, pemerintah akan memberi kepercayaan kepada BPD, bersama-sama bank besar lain, ditunjuk sebagai partner untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi rumah tangga produktif dan usahawan UMKM," imbuh Winny.
(cha/qom)











































