BPD Tidak Terimbas Krisis AS

BPD Tidak Terimbas Krisis AS

- detikFinance
Jumat, 17 Okt 2008 15:35 WIB
Jakarta - Krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat tidak memukul pembiayaan kredit nasional yang diluncurkan jaringan Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia. Hal itu bisa terjadi karena jaringan BPD tidak banyak menginvestasikan dananya ke sekuritas, investment product, valuta asing dan kartu kredit.

Demikian diungkapkan ketua umum Asosiasi Bank Daerah Seluruh Indonesia (Asbanda) Winny E. Hassan di sela-sela rapat koordinasi Direktur Utama dan Direktur pemasaran BPD Seluruh Indonesia Jumat (17/10/2008) di Hotel Aryaduta, Jl Diponegoro, Pekanbaru.

Ia menjelaskan, BPD justru siap memberikan solusi dii tengah kekhawatiran masyarakat akan tersumbatnya keran kredit pada proyek-proyek besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak pihak kini telah memandang BPD sebagai satu kekuatan penting di industri perbankan nasional dengan total aset per Desember 2007 mencapai Rp. 170 Triliun dan jaringan kantor sebanyak 1.864 yang tersebar di seluruh nusantara," ungkap Winny, yang juga direktur utama Bank DKI tersebut.

Bank Pembangunan Daerah seluruh Indonesia yang tergabung dalam Asbanda kini menerobos dalam jajaran 5 bank besar di Indonesia, setelah Bank Mandiri, Bank BCA, BRI dan BNI.

Untuk itu belum lama ini Wakil Presiden Jusuf Kalla mengundang para pimpinan BPD dan meminta untuk turut serta dalam membantu Kementerian Pekerjaan Umum menyediakan fasilitas pembiayaan beserta bank-bank besar yang lain.

Iimbauan Wakil Presiden tersebut terutama untuk mengamankan proyek-proyek vital seperti proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt dan 10 juta Sambungan air minum untuk perumahan. Kedua proyek tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Menurut Winny, saat ini BPD telah menerima tawaran untuk membiayai sebagian dari proyek-proyek tersebut senilai Rp. 3,4 triliun. Di antaranya untuk pembangunan pembangkit listrik di Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Untuk proyek penambahan 10 juta sambungan air  minum rumah tahun 2009-2013 untuk di 459 kota, rencananya akan membutuhkan investasi  sebesar Rp. 78,41 triliun yang sedianya akan dipenuhi dengan pola pembiayaan equity, pinjaman dari bank, trade credit, kerjasama pemerintah dan swasta serta dari penerbitan obligasi.

Winny mengakui, gejala umum yang terjadi sekarang kurang menguntungkan bagi proyek-proyek raksasa. Saat ini  likuiditas menjadi kian sulit, ekspansi kredit terpaksa tertahan, serta terjadi  gejolak bursa saham.  Itu semua merupakan buntut dari krisis keuangan akibat subprime mortgage yang sedang melanda negeri paling berpengaruh di dunia, yakni Amerika Serikat.

"Yang paling penting tentunya kita mesti menyamakan persepsi, melakukan fine tuning sense of crisis di frekuensi yang sama. Karena dengan begitu kita akan mampu melangkah, berdaya upaya dengan lebih baik dan harmonis," katanya.

Meski episentrumnya jauh di AS, getaran ekonominya sempat mengguncang pasar modal hingga memaksa otoritas nasional untuk men-suspend perdagangan selama 3 hari. Namun Bank  BPD relatif aman karena tidak banyak terkait dengan investasi luar negeri.

"Dan semoga tak lama lagi, untuk tahun-tahun mendatang, pemerintah akan memberi kepercayaan kepada BPD, bersama-sama bank besar lain, ditunjuk sebagai partner untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi rumah tangga produktif dan usahawan UMKM," imbuh Winny.
(cha/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads