'Crisis Fund' Arroyo Membingungkan

'Crisis Fund' Arroyo Membingungkan

- detikFinance
Sabtu, 18 Okt 2008 12:04 WIB
Crisis Fund Arroyo Membingungkan
Jakarta - Sebuah lembaga untuk mengantisipasi krisis 'Crisis Fund' yang digagas ASEAN+3 sebagaimana diungkapkan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo ternyata masih membingungkan. Banyak hal yang tidak cocok dengan yang disampaikan Arroyo.

Arroyo sebelumnya mengungkapkan bahwa 'Crisis Fund' akan didanai oleh Bank Dunia sebesar US$ 10 Miliar. Namun Bank Dunia selanjutnya membantah akan mendanai 'Crisis Fund' tersebut.

Koreksi lanjutan selanjutnya disampaikan oleh Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Ralph Recto yang menyatakan bahwa pendanaan berasal dari IMF, bukan Bank Dunia. Fasilitas pembiayaan US$ 10 miliar itu diungkapkan dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini adalah untuk skenario terburuk, mereka sudah menyediakan US$ 10 miliar. Pengertian saya, dana itu untuk Asia Tenggara," jelas Recto dalam wawancaranya dengan Reuters, Sabtu (18/10/2008).

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani pun mengungkapkan bahwa 'Crisis Fund' itu sebenarnya merupakan kelanjutan dari Prakarsa Chiang Mai atau 'Chiang Mai Initiative' (CMI) yang digagas negara-negara ASEAN plus China, Jepang dan Korsel atau dikenal dengan ASEAN+3 beberapa tahun silam.

Sri Mulyani mengungkapkan, para menteri keuangan selama ini sudah berdiskusi dalam kerangka CMI tersebut untuk mengumpulkan pendanaan bersama dengan rasio 20:80 yakni 20 persen disediakan negara-negara ASEAN, sementara 80 persen disediakan oleh China, Jepang dan Korsel.

Jumlahnya ketika itu diputuskan mencapai US$ 20 miliar untuk tahap pertama, dan ditingkatkan maksimal bisa US$ 80 miliar.

"Gunanya adalah untuk mensupport satu sama lain di dalam kondisi ancaman krisis," jelas Sri Mulyani di kantor presiden, Jumat (17/10/2008).

Menurut Sri Mulyani, metodologi, syarat atau manajemen pengelola dana dalam kerangka CMI itu kini masih dibahas.

"Karena adanya krisis ini akan dipercepat sehingga kesepakatan ASEAN plus 3 di dalam kerangka Chiang Mai Initiative itu segera bisa diaktifkan," pungkasnya. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads