Perbankan Hati-hati Terbitkan Letter of Credit

Perbankan Hati-hati Terbitkan Letter of Credit

- detikFinance
Selasa, 21 Okt 2008 07:53 WIB
Perbankan Hati-hati Terbitkan Letter of Credit
Jakarta - Krisis ekonomi global yang menyebabkan seretnya likuiditas dunia menyebabkan perbankan nasional lebih hati-hati memberikan kredit ekspor khususnya dalam penjaminan L/C (Letter of Credit) kepada para eksportir.

Ketua Himbara (Perhimpunan Bank-Bank Milik Negara) yang juga Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, dengan seretnya likuiditas semua negara termasuk Indonesia membuat persediaan valuta asing menjadi terbatas.

"Karena kesulitan yang dialami di AS dan adanya krisis global ini membuat dana-dana yang ditaruh khususnya di negara berkembang banyak ditarik, sehingga dana valas terbatas, otomatis kegiatan ekspor impor yang melibatkan transaksi valas sedikit perlu penyesuaian," jelasnya usai rapat koordinasi dengan pemerintah di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin malam (20/10/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun begitu, kata Agus, bukan berarti perbankan menghentikan kucuran kredit ekspornya saat ini. "Kalau dukungan dalam bentuk kredit tetap akan dilakukan cuma perlu lebih hati-hati dan perlu lebih diatur," imbuhnya.

Dikatakan Agus pengetatan kredit ekspor dalam bentuk valas yang dilakukan perbankan saat ini bukan karena kondisi perbankan nasional yang guncang, namun ini adalah prinsip kehati-hatian di tengah situasi global yang terjadi.

"Perbankan di Indonesia jauh lebih sehat dari negara tetangga. Tapi kita mesti hati-hati kalau eksportir kita melakukan ekspor kadang-kadang bank yang ada di negara pembeli mungkin bisa tidak bayar karena banknya sedang tidak sehat, atau ada pembeli yang mungkin ingin merenegosiasi kontraknya dengan penjual," ujarnya.

Namun Agus memastikan perbankan Indonesia sehat melebihi kesehatan dari negara-negara tetangga termasuk negara maju.

"Karena kita punya LDR (Loan To Deposit Ratio), permodalan, keuntungan, dan kualitas aset yang bagus. Tapi memang semua negara yang punya valas khususnya dolar AS memang mesti hati-hati di dalam mengelola likuiditasnya," tuturnya. (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads