Ketua Himbara (Perhimpunan Bank-Bank Milik Negara) yang juga Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, dengan seretnya likuiditas semua negara termasuk Indonesia membuat persediaan valuta asing menjadi terbatas.
"Karena kesulitan yang dialami di AS dan adanya krisis global ini membuat dana-dana yang ditaruh khususnya di negara berkembang banyak ditarik, sehingga dana valas terbatas, otomatis kegiatan ekspor impor yang melibatkan transaksi valas sedikit perlu penyesuaian," jelasnya usai rapat koordinasi dengan pemerintah di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin malam (20/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Agus pengetatan kredit ekspor dalam bentuk valas yang dilakukan perbankan saat ini bukan karena kondisi perbankan nasional yang guncang, namun ini adalah prinsip kehati-hatian di tengah situasi global yang terjadi.
"Perbankan di Indonesia jauh lebih sehat dari negara tetangga. Tapi kita mesti hati-hati kalau eksportir kita melakukan ekspor kadang-kadang bank yang ada di negara pembeli mungkin bisa tidak bayar karena banknya sedang tidak sehat, atau ada pembeli yang mungkin ingin merenegosiasi kontraknya dengan penjual," ujarnya.
Namun Agus memastikan perbankan Indonesia sehat melebihi kesehatan dari negara-negara tetangga termasuk negara maju.
"Karena kita punya LDR (Loan To Deposit Ratio), permodalan, keuntungan, dan kualitas aset yang bagus. Tapi memang semua negara yang punya valas khususnya dolar AS memang mesti hati-hati di dalam mengelola likuiditasnya," tuturnya. (dnl/ir)











































