Ya, ekonomi AS memang runtuh karena kelakuan para perbankan yang nekat memberikan kucuran kredit pada orang-orang yang tidak kredibel. Termasuk masyarakat yang tidak memiliki pendapatan ataupun pekerjaan.
"Kredit perumahan diberikan pada orang yang nggak punya income dan gak punya pekerjaan. Istilahnya kredit ninja, no income, no job. Padahal orang-orang harus bayar bunga lebih besar, jadinya mereka nggak bisa bayar. Bank lah yang menanggungnya sehingga jadi kredit macet," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Ch. Fadjrijah .
Ia menyatakannya dalam sambutan Halal Bihalal Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) di Gedung Bank Syariah Mandiri, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/10/2008).
Menurutnya, sistem perbankan konvensional yang dianut perbankan AS memang banyak kelemahannya. Salah satu kelemahan bank konvensional yang memicu keterpurukan finansial adalah spekulasi.
"Kalau kaitannya dengan krisis perumahan oleh bank-bank AS, mereka memberi kredit pada orang yang nggak punya income dan pekerjaan. Itu judi," katanya.
Sementara itu spekulasi juga terlihat pada fluktuasi harga minyak. Harga emas hitam yang sempat menyentuh US$ 147 per barel kini terpangkas hingga setengahnya.
"Harga minyak yang sekarang turun separuhnya, padahal bukan untuk delivery sekarang. Tapi untuk masa depan, bahkan Juni 2009. Jadi unsur spekulasinya tinggi sekali," jelasnya. (lih/ddn)











































