Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis malam (23/10/2008).
"Selama krisis ini dibandingkan sebelum krisis, naik sekitar 250 sampai 300 bps. Itu kenaikkan sejak pertengahan tahun lalu, itu untuk rata-rata semua tenor," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investor asing kalau mau investasi di SUN ada dua hal yang dilihat, pertama adalah spread antara Fed rate dengan BI rate. BI rate kan kemarin naik sedangkan Fed tetap atau cenderung turun, jadi interest rate differential-nya makin besar," jelasnya.
"Yang kedua adalah nilai tukar, nilai tukar adalah faktor yang paling dipertimbangkan oleh investor, terutama investor asing. Kalau nilai tukar melemah maka gain yang didapat investor asing akan semakin kecil," tambah Rahmat.
Meskipun begitu, Rahmat tetap yakin pemerintah masih punya peluang untuk menerbitkan SUN di tahun 2009 karena lelang penerbitan SUN reguler di 2008 dihentikan.
"Kita bisa melakukan apa saja, seperti diversifikasi instrumen, kemudian pasarnya kemudian metodenya, metodenya bisa macam-macam, bisa private placement, public offering atau lelang. Jadi menurut saya setiap instrumen bisa kita buat dengan jenis yang berbeda-beda. Jadi itulah yang akan kita kelola tahun depan," tuturnya.
Dikatakannya kenaikkan yield SUN ini memang akibat pengaruh sentimen global, tapi kenaikkannya masih batas wajar karena dengan situasi yang terjadi yield obligasi pasti akan mengalami titik keseimbangan baru ke atas.
"Kalau pun yield naik, masih bisa dikendalikan. Kita punya berbagai instrumen yang bisa kita kembangkan, sehingga secara total nanti yield-nya naik. Tapi dalam batas-batas yang wajar. Sekarang untuk SUN 10 tahun, yield itu 15%," jelasnya.
(dnl/qom)










































