Di tengah tingkat likuiditas dan keuangan dunia yang tidak menentu, Bank Indonesia, seperti lembaga keuangan besar lainnya telah mengumumkan perubahan persyaratan marked to market serta menurunkan persyaratan giro wajib minimum untuk mendukung likuiditas. Β
Dengan kebijakan risiko kredit bank yang ketat, BII juga memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih prudent dengan membentuk tambahan provisi bagi kredit bermasalah untuk kendaraan bermotor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejalan dengan perkiraan kami mengenai inflasi dan kenaikan harga pada pertengahan tahun ini, sentimen bisnis dan konsumen sudah melemah selama kuartal September 2008 β bahkan sebelum krisis perbankan global muncul, harga-harga komoditas telah meningkat dan permintaan ekspor menurun," kata Presiden Direktur BII, Henry Ho dalam siaran pers, Selasa (28/10/2008).
Selanjutnya Bank Indonesia menaikkan suku bunga β yaitu sebesar 25 basis poin menjadi 9,5% untuk membantu menstabilkan rupiah. Selama tahun 2008 ini, suku bunga naik 150 basis poin.
Henry Ho menambahkan, "Walaupun suku bunga naik, kami bisa mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi selama sembilan bulan terakhir. Seperti telah diperkirakan, saat ini kami juga sudah memperketat standar kredit dan komposisi pendanaan kami bergeser ke deposito yang berbunga tinggi dan tabungan dimana nasabah terus meminimalisasi dampak inflasi.Β Yang terpenting, bisnis inti kami terus bertumbuh".
Kredit Nasabah
Pendapatan dari kredit terus mendorong perbaikan jumlah aktiva bank, dengan menyumbangkan lebih dari 75% dari jumlah aktiva produktif pada September 2008 dibandingkan dengan 64% pada September 2007. Pada periode yang sama, kredit Konsumer tumbuh 41% menjadi Rp 15,432 triliun, UKM/Komersial naik 35% menjadi Rp 13,311 triliun dan kredit Korporasi berkembang 24% menjadi Rp 9,311 triliun, terutama pertumbuhan pada sektor telekomunikasi dan gas alam.
Dibandingkan dengan pertumbuhan simpanan nasabah sebesar kurang lebih 10% untuk seluruh bank di Indonesia pada tahun 2008, BII mencapai pertumbuhan simpanan nasabah sebesar 21% menjadi Rp 42 triliun. Kenaikan inflasi dan tingginya suku bunga berdampak pada komposisi simpanan giro turun 24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi Rp 7,221 triliun, sedangkan tabungan naik 51% menjadi Rp 10,045 triliun dan deposito berjangka naik 33% menjadi Rp 24,722 triliun.
Pada 30 September 2008, Mayban Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn. Bhd. (MOCS), anak perusahaan yang dimiliki oleh Malayan Banking Berhad atau dikenal sebagai Maybank telah menyelesaikan proses akuisisi sebesar 100% saham Sorak Financial Holdings Pte. Ltd., yang memiliki 55,51% dari total saham yang diterbitkan BII. Untuk memenuhi peraturan Bapepam, keseluruhan penawaran tender dari sisa saham BII telah diumumkan oleh MOCS.
"Kami optimistis dapat bekerja sama dengan Maybank dan meningkatkan manfaat bagi BII, Maybank dan nasabah kami. Kami telah mulai membangun bisnis remittance dengan memanfaatkan jaringan Maybank yang luas untuk membantu para pekerja Indonesia di luar negeri dalam pengiriman uang melalui BII.Β Sebaliknya, melalui jaringan cabang dan card centre kami, BII siap melayani nasabah Maybank di Indonesia. Hal ini hanya merupakan langkah awal kami untuk membangun sinergi dan menciptakan produk baru antara lain di Treasury, Trade Services, asuransi, internet banking dan perbankan Syariah," papar Henry. (ir/ddn)











































