Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/10/2008) malam.
"Itu memang satu fenomena yang tidak terhindarkan, sekarang (pemilikian SUN oleh asing) sekitar 17,5%. Sebelumnya itu sekitar 18% kira-kira awal bulan, turun 1%," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Departemen Keuangan, kepemilikan asing pada 28 Oktober 2008 mengalami penurunan menjadi Rp 93,06 triliun. Pada awal Oktober lalu tepatnya 10 Oktober 2008, kepemilikan asing di SUN mencapai Rp 99,54 triliun.
Selain dari sisi kepemilikan, paniknya investor asing juga terlihat dari peningkatan credit default swap (CDS) menjadi 1.200 basis points (bps) pada SUN berdenominasi asing. Yield obligasi juga hampir menembus 20 persen untuk beberapa seri obligasi negara.
"Tapi hari ini (Rabu) CDS turun lagi ke 900 basis poin, kemarin yield SUN yang tadinya 10 tahun itu hampir 21% tapi sekarang tadi saya dapat telepon dari pelaku pasar, turun jadi 17%," ujarnya.
Rahmat meminta investor asing untuk tidak khawatir dengan fundamental ekonomi Indonesia. APBN tetap dijalankan sesuai target, tidak berubah, inflasi semakin terkendali.
"Jadi sebetulnya itu karena tadi, yang membuat segala sesuatu ini tadi adalah persepsi, namanya persepsi itu pasti temporer, persepsi bahwa Indonesia akan default, itu kan persepsi. Ini tercermin CDS yang naik secara tajam, dan ini persepsinya tidak berdasarkan faktor fundamental," tegasnya.
(ddn/ir)










































