Kinerja yang lebih rendah ini akibat dari mark to market yang terjadi karena volatilitas pasar dalam portofolio pendapatan tetap Lippo Bank, yang mayoritas berupa obligasi pemerintah Republik Indonesia.
"Sebagaimana juga dunia usaha, sektor keuangan pada khususnya, pada kurun waktu sembilan bulan terakhir menghadapi masa penuh tantangan terkait dengan krisis finansial global, yang dampaknya diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga akhir tahun," ujar Direktur Treasury LB Gottfried Tampubolon dalam siaran pers, Kamis (30/10/2008)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga mengalami tekanan dalam periode Januari-September 2008 karena spread antara tingkat suku bunga kredit dan simpanan mengecil dalam 12 bulan terakhir. Hal ini mencerminkan kenaikan tingkat suku bunga dan ketatnya persaingan bisnis.
"Walaupun demikian Lippo Bank mampu menaikkan marjinnya karena ditopang oleh pertumbuhan kredit," ujarnya.
Kredit Lippo tumbuh 42% year on year menjadi Rp 24.551 miliar secara konsolidasi untuk periode tahun buku yang berakhir 30 September 2008.
Portofolio kredit dan piutang pembiayaan tersebut terdiri dari 39% kredit komersial/SME, 33% kredit korporasi dan 28% kredit consumer (termasuk piutang pembiayaan yang disalurkan melalui PT Kencana Internusa Artha Finance, anak perusahaan LB).
"Ini adalah tahun ke-4 berturut-turut dimana portofolio kredit LB hampir 50% year on year. Hal ini kembali mempertegas komitmen LB terhadap tanggung jawab intermediasinya untuk mendukung perekonomian. Penekanan pada pemberian kredit kepada segmen konsumen dan UKM telah dan akan terus berkesinambungan," ujar Presiden Direktur dan CEO, Henk Mulder.
Β
Adapun anak perusahaan LB, KITA Finance telah pula mencatat pertumbuhan signifikan sehingga portofolio kredit tumbuh 24% dari Rp 533 miliar pada triwulan III-2007 menjadi Rp 662 miliar di triwulan III-2008.
(ddn/ir)











































