Hal ini dikatakan oleh Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada detikFinance, Kamis (31/10/2008).
"Strategi BI tidak efektif, akan lebih strategis dan afektif jika BI menurunkan BI rate mengikuti tren global penurunan suku bunga acuan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mengindikasikan BI rate yang tinggi (9,5%) gagal menahan dana asing bertahan di dalam negeri.
"Bahkan belum menarik minat pengelola dan investor asing menempatkan dananya di pasar Indonesia. Buktinya pada pekan kedua Oktober 2008 investor asing melepas SBI dan SUN sebesar US$ 2,1 miliar," jelasnya.
Dikatakannya, kecenderungan yang terjadi tersebut menjelaskan bahwa dalam suasana
krisis saat ini investor asing menarik seluruh asetnya dari emerging market untuk menyehatkan dan memperkuat likuiditas perusahaan induk di negara asalnya.
"Maka strategi BI rate yang tinggi tidak relevan dengan kecenderungan tersebut," imbuhnya.
Menurutnya, BI perlu ikut menurunkan suku bunganya karena suku bunga yang rendah amat diperlukan saat ini untuk menggerakkan dan mendinamiskan perekonomian.
"Suku bunga yang rendah akan meringankan beban dunia usaha serta memberi tambahan daya konsumsi masyarakat," ujarnya.
Bambang mengatakan dengan pertimbangan tadi The Fed menurunkan suku bunganya menjadi 1% dan langkah yang sama juga akan ditempuh Bank of England, Bank Sentral Uni Eropa, Bank of Japan dan Bank Sentral Cina.
"Kita setuju pengetatan moneter, tapi keran kredit dengan suku bunga yang moderat tetap dibuka bagi usaha-usaha yang kompetitif," katanya.
(dnl/qom)











































