Demikian disampaikan ekonom Aviliani ketika dihubungi detikFinance, Minggu (2/11/2008).
Aviliani menyampaikan, keputusan BI tidak menurunkan BI rate memang dapat dipahami. Apalagi di tengah maraknya penarikan dana besar-besaran dari pasar modal dalam negeri. Penarikan inilah yang menyebabkan nilai tukar rupiah merosot tajam hingga menembus Rp 11.000/US$.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di sisi lain, pengembangan sektor riil menuntut penurunan acuan suku bunga BI tersebut. Menurut Aviliani, kondisi para pengusaha saat ini tertekan habis-habisan karena proyeksi ekspor yang akan menurun ditambah suku bunga yang tinggi.
Padahal dengan adanya penurunan suku bunga di AS membuat selisih dengan suku bunga di Indonesia masih cukup besar.
"The Fed juga turunkan suku bunganya, artinya selisih dengan BI masih cukup tinggi. Jadi kalau BI rate diturunkan 50 basis poin nggak masalah," katanya.
Aviliani mengaku cukup yakin penurunan BI rate sebesar 50 basis poin tidak akan mempengaruhi penyerapan dana dalam dua bulan ke depan.
(lih/iy)











































