Hal ini dikatakan oleh Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (4/10/2008).
"Untuk sementara sulit menurunkan BI Rate karena rupiah labil. Walau inflasi bulanan turun, ekspektasi inflasi belum turun tajam. Perkiraan kita BI Rate stabil atau naik maksimal 25 bps, sekarang lebih cenderung naik," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Faktor-faktor ekonominya beda. AS, Eropa jelas resesi. Indonesia tidak resesi. Inflasi masih double digit, rupiah labil. Kalau rupiah terpuruk terus, inflasi akan naik karena imported inflation," ujarnya.
Fauzi mengatakan saat ini pelemahan rupiah yang terjadi relatif terbatas dibandingkan pelemahan nilai tukar negara lainnya.
"Yang dikhawatirkan adalah suplai dolar yang mengering. Bukan saja di Indinesia, tapi juga di pasar valas Asia dan Eropa. Sebenarnya, pelemahan rupiah relatif terbatas, antara 14-15 persen sejak awal tahun. Dibanding Korean Won, Malaysian Ringgit, dan Philipines Peso. Jadi ini adalah fenomena global di pasar valas, dan mudah-mudahan normal lagi dalam 3-6 bulan. Jadi semua dolar yang ada dunia kembali ke AS," paparnya.
Β
"Jadi sekarang suku bunga antar di pasar di atas 10% juga. Artinya, kalaupun BI Rate naik maka hanya mengikuti suku bunga yang sudah ada di pasar uang," jelasnya.
Β
Sementara itu secara terpisah, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan saat ini dunia usaha maupun masyarakat sudah merasakan suku bunga bank yang tinggi karena BI Rate yang berada di level 9,5%..
Β
"Jika BI Rate diturunkan, suku bunga bank otomatis turun juga. Pemulihan atau membangkitkan kembali sektor riil menuntut penurunan BI Rate. Sangat minim jumlah pengusaha yang berani memanfaatkan suku bunga bank yang dewasa ini rata-rata 13% untuk kredit modal kerja dan investasi," ujarnya dalam pesan singkat kepada detikFinance.
(dnl/ddn)











































