Asia Sudah Full Blanket Guarantee, Indonesia Kapan?

Asia Sudah Full Blanket Guarantee, Indonesia Kapan?

- detikFinance
Kamis, 13 Nov 2008 09:06 WIB
Asia Sudah Full Blanket Guarantee, Indonesia Kapan?
Jakarta - Krisis finansial Amerika Serikat (AS) memberikan dampak besar pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Hampir semua negara Asia menerapkan penjaminan penuh atau blanket guarantee dan Indonesia dinilai sudah seharusnya melakukan itu.

Ekonom CIDES Umar Juoro mengatakan pemerintah memang sudah mengambil upaya-upaya menghadapi masalah-masalah krisis tersebut. Namun perlu langkah yang lebih cepat ketimbang percepatan sebaran penyakit.

"Untuk sektor perbankan, jaminan asuransi penuh (blanket guarantee) pada deposito harus dilakukan juga oleh Indonesia. Negara-negara di Asia telah melakukan itu," ujar ekonom CIDES, Umar Juoro dalam paparan ekonomi di hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu Malam (12/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juoro menyebutkan, Hong Kong, Malaysia dan Singapura telah menetapkan kebijakan blanket guarantee hingga 2010. Taiwan pun tak luput ikut menerapkan kebijakan tersebut.

"Thailand bahkan memberikan jaminan asuransi penuh pada deposito hingga 2011. China dan Vietnam melakukan itu pada bank-bank BUMN mereka," jelas Juoro.

Sederhananya, pemerintah dinilai masih perlu membuat kebijakan-kebijakan yang kemampuan antisipasinya lebih ampuh dan lebih cepat dari percepatan sebaran bibit penyakit krisis yang sudah mulai terasa.

Pengamat ekonomi Pande Radja Silalahi mengingatkan gejala penyakit sudah mulai tampak pada perekonomian Indonesia, meski pun belum sampai taraf resesi.

"Dalam kondisi seperti ini, kita memiliki dua pilihan, yaitu memberi vitamin guna mencegah gejala sakit menjadi akut atau nanti saja memberikan antibiotik setelah kondisi menjadi semakin parah," ujar Pande.

Apa yang dikatakan Pande sebenarnya anjuran kuno yang sering diungkapkan oleh orang-orang bijak zaman dahulu. Namun dalam konteks ini, pilihan tersebut menjadi aspek yang cukup sulit untuk direalisasikan.

Sebab, perdebatan mengenai seberapa besar krisis AS berpengaruh di Indonesia masih berlangsung di kalangan intelektual nusantara.

"Kendati demikian, kita sudah cukup merasakan dampak krisis tersebut. Jatuhnya indeks pasar modal dan depresiasi rupiah merupakan tanda-tanda datangnya suatu penyakit bagi perekonomian kita," ujar ekonom CIDES, Umar Juoro.

Dampak berantai krisis AS diperkirakan bakal terjadi dalam waktu yang belum dapat dipastikan. Beberapa sektor sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

"Perbankan sudah menunjukkan pengetatan likuiditas yang berdampak pada keengganan perbankan untuk menyalurkan kredit antar bank," ujar Juoro.

Sektor riil juga dinilai sudah terpengaruh. Hal itu ditunjukkan dengan melemahnya ekspor dan sulitnya industri di sektor ini dalam mendapatkan kredit perbankan.

"Pertumbuhan ekonomi juga akan menurun yang berimplikasi pada bertambahnya pengangguran dan kemiskinan," jelas Juoro.

Intinya kata Pande, bagaimana pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang antisipatif terhadap gejala krisis dan mampu menjaga pasar dalam negeri. "Kunci utama selamat dari krisis adalah menjaga pasar dalam negeri tetap berjalan," ujar Pande.

Sementara Juoro pemerintah perlu melakukan stimulus perekonomian dalam skala besar, sebagaimana yang dilakukan berbagai negara lain di Asia.

"China misalnya memberikan stimulus pembangunan infrastruktur senilai US$ 586 miliar. Malaysia menggelontorkan US$ 2 miliar untuk mendorong investasi dan menstimulus ekonomi," papar Juoro.

Tak luput ia sampaikan, Thailand ikut memberikan suntikan dana US$ 2,9 miliar untuk program penciptaan kesempatan kerja dan investasi publik.

"Pemerintah Indonesia akan mengalokasikan insentif Rp 10 triliun (US$ 1 miliar) untuk pendapatan tidak kena pajak dan PPN," ujar Juoro.

(dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads