Jangan Bebani Cadangan Devisa dengan Bank Seperti Indover

Jangan Bebani Cadangan Devisa dengan Bank Seperti Indover

- detikFinance
Kamis, 13 Nov 2008 11:45 WIB
Jangan Bebani Cadangan Devisa dengan Bank Seperti Indover
Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih menunggu surat dari DPR untuk mengaudit ulang Bank Indover. BPK berpandangan, likuidasi Bank Indover sudah sepantasnya agar tidak membebani cadangan devisa.

Ketua BPK Anwar Nasution mengatakan pihaknya berharap pertengahan November ini surat dari DPR sudah keluar sehingga BPK bisa langsung melakukan audit.

"Persiapan sudah dilakukan, kita harap DPR cepat mengeluarkan surat rekomendasinya," jelasnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/10/2008)..

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkaitan dengan keputusan Bank Indonesia untuk melikuidasi Indover, Anwar mengatakan BPK sudah menyarankan hal itu sejak lama.

"Karena Indover itu bukan bank. Sumber dananya 100% berasal dari cadangan luar negeri BI dan digunakan untuk memberikan kredit kepada orang-orang Indonesia sendiri," tuturnya.

Selain itu, Anwar juga menuturkan dirinya prihatin dengan masalah yang dihadapi Gubernur BI Boediono terkait Indover ini. "Saya kasihan sama Pak Boediono, rupiah saat ini sudah kayak yoyo. Oleh karena itu jangan menggunakan cadangan devisa untuk hal-hal yang tidak perlu," ujarnya.

Anwar juga mengatakan dengan situasi dunia yang sedang krisis saat ini, Indonesia memerlukan banyak uang untuk membantu mengatasi masalah likuiditas.

"Karena itu cadangan devisa sangat diperlukan pada saat-saat ini, jadi jangan ada lagi beban devisa untuk bank-bank seperti Indover, tapu untuk keperluan yang lebih penting," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Auditor II BPK Novy G.A Pelenkahu yang menangani audit Indover mengatakan BPK sebenarnya sudah menyerahkan hasil audit terkait Indover pada 2006-2007 yang merekomendasikan untuk melikuidasi Indover.

"Ini agar cadangan devisa BI tidak berat. Supaya BI fokus, karena kalau terjadi apa-apa seperti saat ini maka BI sendiri yang akan repot, bisa menggerus cadangan devisa kita," tuturnya.

Berdasarkan data yang dikutip dari BI, cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober tercatat hanya US$ 50 miliar. Angka ini merupakan yang terendah sepanjang tahun 2008, akibat adanya pembayara utang dan stabilisasi rupiah.





(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads