Corporate Secretary BNI Intan Abdams Katoppo ketika dihubungi detikFinance, Rabu (19/11/2008) menolak jika dikatakan perbankan saat ini menghentikan kucuran KPR karena masalah likuiditas.
"Kalau di BNI ekspansi tetap kami lakukan, mungkin jadi lebih fokus dan selektif saja ya dalam mengucurkan KPR. Saat ini BNI lebih ke KPR untuk rumah, apartemen dan rumah pertama. Kalau untuk tanah dan sebagainya itu dikurangi cukup besar. Porsi KPR di portofolio kredit BNI sekitar 8-10%," tutur Intan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan Intan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mengaku tetap menyalurkan kredit KPR dan belum ada kebijakan untuk menghentikan kredit ke sektor ini.
"Kami masih menjalankan KPR dengan DP minimal 20% dan bunga 15%," kata Wadirut BCA Jahja Setiaatmadja ketika dihubungi detikFinance.
Sementara Corporate Secretary PT Bank Bukopin Tbk Tantri Wulandari mengatakan kalau pun ada pengurangan porsi KPR itu jumlahnya tidak signifikan.
"Yang pasti porsi KPR dalam kredit Bukopin itu sangat kecil. Fokus kita kan kredit SME.
Porsi Consumer Credit hanya sekitar 7%, itu pun sudah termasuk Kartu Kredit, Kredit Pemilikan Mobil, KPR dsb. Jadi kalau memang ada pengurangan porsi KPR saya pikir tidak akan berdampak signifikan," ujar Tantri.
Sebelumnya Ketua Kadin MS Hidayat di sela-sela mengikuti kunjungan bilateral Presiden SBY dengan Presiden Brazil Luiz Inacio Lula Da Silva di Istana Presiden Palacio Planalto, Brasilia, Selasa (18/11/2008) seperti dilaporkan reporter detikcom, Arifin Asydad mengatakan pengucuran KPR dihentikan sementara, karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.
"Saya mendapat kabar bahwa kredit KPR semua dihentikan, karena ada kesulitan mendapatkan likuiditas di perbankan, sehingga menentukan tingkat suku bunga. Anda tahu deposito sekarang ditawarkan 15% dan lending rate sudah di atas 20%," kata Hidayat. (ir/ir)











































