Neraca Pembayaran RI Merosot Catat Defisit US$ 89 Juta

Neraca Pembayaran RI Merosot Catat Defisit US$ 89 Juta

- detikFinance
Jumat, 05 Des 2008 19:06 WIB
Neraca Pembayaran RI Merosot Catat Defisit US$ 89 Juta
Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2008 turun tajam, bahkan mencatat defisit hingga US$ 89 juta. Ini berarti NPI mencatat minus untuk pertama kalinya sejak tahun 2007 .

Angka tersebut berarti penurunan tajam dibandingkan triwulan II-2008 yang mencatat surplus US$ 1,324 miliar, dan triwulan III-2007 yang mencapai US$ 1,179 miliar.

Salah satu penyebab turunnya NPI adalah turunnya surplus transaksi modal dan finansial secara tajam menjadi hanya US$ 509 juta pada triwulan III-2008. Pada triwulan III-2008, transaksi modal dan finansial melonjak tajam menjadi US$ 2,599 miliar. Sedangkan pada triwulan III-2007, transaksi modal dan finansial minus US$ 1,212 miliar.

"Memburuknya kondisi pasar keuangan global telah mendorong arus keluar modal portofolio dalam bentuk pelepasan SBI, SUN, dan saham oleh investor asing," jelas Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Humas BI, Dyah NK Makhijani dalam siaran persnya, Jumat (5/12/2008)..

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, perkembangan tersebut, lanjut Dyah, tidak sampai membuat transaksi modal dan keuangan menjadi defisit karena dalam periode yang sama terjadi kenaikan penarikan utang luar negeri swasta dan penurunan pembayaran pokok utang luar negeri pemerintah dalam jumlah yang signifikan.

"Kenaikan penarikan utang luar negeri swasta itu diperkirakan tidak terlepas dari masih kuatnya kinerja perekonomian domestik pada triwulan III 2008," katanya.

Sementara untuk transaksi berjalan pada triwulan III-2008 mencatat perbaikan dengan defisit yang menciut menjadi hanya US$ 564 juta. Pada triwulan II-2008, transaksi berjalan mencatat minus US$ 1,241 miliar, sementara pada triwulan III-2007 transaksi berjalan mencatat surplus hingga US$ 2,127 miliar.

"Di antara komponen-komponen utama transaksi berjalan, perbaikan yang paling signifikan terjadi pada neraca perdagangan minyak dan gas serta neraca pendapatan," jelasnya. 

Ia menjelaskan, neraca perdagangan gas mencatat kenaikan surplus, walaupun harga ekspor gas mulai menurun mengikuti perkembangan harga minyak, karena didukung oleh kenaikan volume ekspor gas yang signifikan. Neraca perdagangan gas mencatat kenaikan surplus menjadi US$ 4,781 miliar, dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar US$ 4,434 miliar.

Sementara defisit neraca perdagangan minyak mengecil karena, sesuai dengan status Indonesia sebagai net oil importer, dampak penurunan harga minyak terhadap penurunan nilai ekspor minyak lebih kecil daripada dampaknya terhadap penurunan nilai impor minyak. Defisit neraca perdagangan minyak turun dari US$ 3,145 miliar menjadi US$ 2,761 miliar.

"Penurunan harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang memperkecil defisit neraca pendapatan melalui dampaknya terhadap penurunan keuntungan yang dibayarkan kepada kontraktor migas asing," jelas Dyah.

Sejalan dengan defisit NPI, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan III 2008 turun menjadi US$57,1 miliar. Meskipun demikian, jumlah cadangan devisa tersebut masih berada pada posisi yang relatif aman, yaitu setara dengan kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 4,4 bulan.

Berikut catatan NPI seperti dikutip dari situs BI:

  • Triwulan I-2007: Surplus US$ 4,379 miliar
  • Triwulan II-2007: Surplus US$ 3,637 miliar
  • Triwulan III-2007: Surplus US$ 1,179 miliar
  • Triwulan IV-2007: Surplus US$ 3,520 miliar
  • Triwulan I-2008: Surplus US$ 1,032 miliar
  • Triwulan II-2008: Surplus US$ 1,324 miliar
  • Triwulan III-2008: Minus US$ 89 Juta.
 
 
 
  (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads