Yield untuk T-bill berjangka waktu 3 bulan pada perdagangan Selasa (9/12/2008) sempat minus hingga -0,051% sebelum akhirnya rebound lagi ke minus 0,001%.
Sejarah lainnya dalam pasar surat berharga, pemerintah AS berutang hingga US$ 30 miliar dalam bentuk surat berharga tanpa bunga yang berjangka waktu 28 hari. Semua pembeli surat berharga berjangka 28 hari sepakat untuk mendapatkan imbal hasil nol persen dalam lelang, yang permintaannya mencapai 4 kali lipat dari penawaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebutuhan akan investasi yang aman sangat besar, orang hanya merasa khawatir untuk mengambil risiko atas dana-dananya," ujar John Canavan, analis dari Stone & McCarthy Research Associates seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/12/2008).
Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah. Yield atau imbal hasil yang rendah merefleksikan melonjaknya permintaan atas instrumen surat berharga US Treasury, yang selama ini dianggap sebagai surat utang paling aman di seluruh dunia.
Analis mengatakan, investor untuk sementara memilih memburu US Treasury karena yakin pemerintah AS tidak akan mengalami gagal bayar alias default. Mereka diliputi sejumlah kekhawatiran diantaranya seputar kemungkinan terjadinya deflasi dan tren pergerakan suku bunga. Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan akan kembali menurunkan tingkat suku bunganya lagi ke level terendah.
"Ekspektasi deflasi untuk beberapa bulan kedepan berarti yield surat berharga jangka pendek sesungguhnya tidak benar-benar negatif," tambah Canavan. (qom/ir)











































