Demikian Tinjauan Kebijakan Moneter untuk bulan November yang dikutip detikFinance, dari situs BI, Kamis (11/12/2008).
Pertumbuhan kredit yang memperhitungkan pelemahan nilai tukar rupiah tercatat mulai melambat. Kredit dalam rupiah tumbuh lebih rendah menjadi 36,9% pada Oktober dibandingkan pertumbuhan pada September yang sebesar 37,4%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kredit konsumsi bahkan mencatat pertumbuhan negatif yang signifikan. Sementara secara sektoral, perlambatan kerdit valas terutama terjadi pada sektor pertanian dll.
Namun indikator-indikator perbankan masih mantap. Aset perbankan nasional meningkat 20% menjadi Rp 2.235 triliun. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan pada Oktober tercatat sebesar 3,9% (gross) dan 1,6% (netto). Untuk rasio kecukupan modal (CAR) dan Return on Asset (RoA) relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yakni 16% dan 2,7%.
Dana pihak ketiga (DPK) tetap tumbuh dan mencapai Rp 1.674,2 triliun selama Oktober dibandingkan Rp 1.601,4 triliun selama September. DPK mencatat pertumbuhan 18% selama Oktober, atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada September yang sebesar 14,3%.
Kenaikan DPK tersebut disumbang oleh seluruh komponen terutama deposito berjangka 1 bulan. Penyumbang utama pertumbuhan deposito adalah kelompok perorangan dan BUMS. Sementara dari sisi komponen tabungan, terjadi pada perlambatan pada kelompok perseorangan akibat tingginya bunga deposito.
Suku bunga deposito menurut catatan BI memang terus meningkat selama Oktober. Meski BI Rate bertahan, kenyataannya bunga deposito terus merangkak naik yang mengindikasikan segmentasi pasar perbankan.
Rata-rata suku bunga deposito untuk tenor 1 bulan naik dari 7,74% menjadi 8,51%. Kuatnya respons perbankan ini terutama dilakukan oleh bank campuran, yang diikuti oleh bank BUMN.
Seiring kenaikan bunga deposito, suku bunga kredit pun juga meningkat dalam besaran yang lebih besar. Pada Oktober 2008, rata-rata tertimbang suku bunga kredit modal kerja (KMK) melonjak sebesar 74 bps menjadi 14,67%.
Peningkatan suku bunga KMK tersebut terutama disumbang oleh kelompok bank asing dan campuran.
Sementara rata-rata suku bunga kredit investasi juga meningkat signigikan 56 bps menjadi 13,88%. Kenaikan suku bunga kredit investasi terutama dilakukan bank asing dan campuran, serta bank umum swasta nasional. (qom/qom)











































