Melihat kondisi itu, Fitch Ratings kembali menegaskan peringkat PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai berikut: peringkat jangka panjang mata uang asing (Issuer Default Rating) di 'BB', peringkat individual di 'C/D', peringkat dukungan di '3' dan peringkat hutang subordinasi mata uang asing di 'BB-' (BB minus). Prospek adalah Stabil.
Fitch memberikan batas bawah peringkat dukungan di 'BB-' (BB minus) kepad a Niaga berdasarkan penilaian Fitch terhadap kemungkinan dukungan pemerintah yang moderat mengingat total asset yang lebih besar yang membesar dan resiko sistemik sebagai bank keenam terbesar di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peringkat Niaga tersebut mencerminkan profitabilitas yang cukup baik dan neraca yang kuat dengan posisi pendanaan yang diharapkan membaik setelah penggabungan usaha dengan Lippo.
"Penggabungan usaha antara Niaga dan Lippo diajukan pada bulan Juni 2008 untuk memenuhi peraturan kepemilikan tunggal di Indonesia. Penggabungan ini diharapkan memberikan sinergi yang saling melengkapi dari keunggulan Niaga di sisi komersial dan kredit ritel dengan kelebihan Lippo di bidang pendanaan dan kemampuannya di perbankan transaksional," kata Tan Lai Peng, Direktur Fitch untuk group institusi keuangan dalam siaran pers, Kamis (11/12/2008).
Keuntungan ini diharapkan baru dapat direalisasikan dalam jangka panjang karena kondisi operasi yang lebih sulit di Indonesia pada tahun 2009. Bank hasil penggabungan memiliki aset sebesar Rp 99,2 triliun (US$ 8,3 miliar) per 1 November 2008.
Berdasarkan perhitungan Fitch, tingkat pengembalian rata-rata (ROA) turun sedikit ke 1,4% pada sembilan bulan pertama tahun 2008 namun margin bunga bersih tetap stabil pada 5,0% pada triwulan III-2008. Biaya pendanaan Lippo yang lebih murah dapat menghasilkan kombinasi yang baik bagi pinjaman Niaga yang hampir dua kali lebih besar dari Lippo. Kombinasi pinjaman dari penggabungan kedua bank ini nampak seimbang dengan proporsi antara korporasi, komersial dan pinjaman konsumen sebesar 30%, 35%, 35%.
Kualitas aset membaik dengan pinjaman bermasalah turun menjadi 3% dari total pinjaman kotor per akhir kuartal ketiga tahun 2008. Pinjaman bermasalah dari hasil penggabungan bank ini diestimasikan sedikit di atas 2%, dan berada di bawah rata-rata industri sebesar 3,9% dengan rasio pencadangan sebesar 80% dari pinjaman bermasalah (rata-rata bank sekelas: sekitar 120%).
Dengan prediksi penurunan kualitas asset pada tahun depan, Fitch percaya bahwa rasio pencadangan untuk bank hasil penggabungan ini akan terus meningkat. Rasio kewajiban permodalan berada dalam kondisi cukup baik dengan Tier-1 pada 11,3% dan Total CAR pada 14,3%. Niaga mendapatkan keuntungan dari dukungan financial dari CIMB Group (CIMBG).
Didirikan pada tahun 1955 dan tercatat di bursa efek pada tahun 1989, Niaga menjadi bank keenam terbesar di Indonesia, dengan aset sekitar 5% dari total aset perbankan. Bumiputra-Commerce Holdings Berhad, perusahaan holding dari CIMBG, pertama kali memperoleh kontrol mayoritas di Niaga pada November 2002 dan kemudian memindahkan kepemilikannya pada Agustus 2007 kepada CIMBG. Setelah penggabungan dengan Lippo, CIMBG sekarang memiliki 77,74% kepemilikan di Niaga dimana Khazanah Nasional Berhad memiliki 19,2% kepemilikan di Niaga. (ir/qom)











































