Dari semua perbankan yang 'tekor' di seluruh dunia, kerugian perbankan AS menempati posisi tertinggi yaituΒ US$ 668,7 miliar dengan tambahan modal hingga US$ 544 miliar.
Selanjutnya disusul perbankan Eropa yang kerugiannya mencapai US$ 282,1 miliar dengan tambahan modal US$ 304,6 miliar. Sementara perbankan Asia hanya mengalamai kerugian US$ 30,1 miliar dan tambahan modal US$ 44,7 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"US$ 30,1 miliar untuk perbankan Asia sebenarnya itu lebih kecil dampaknya," katanya.
Kerugian ini, menurut Mirza, karena adanya peningkatan kredit macet (NPL) yang signifikan. Untuk itulah banyak bank-bank yang memerlukan injeksi dana atau rekapitalisasi untuk merestrukturisasi NPL.
"Sepanjang rekapitalisasi belum selesai maka perbankan global akan melakukan de-leveraging yaitu mengurangi eksposure kredit di emerging market," jelasnya.
Untuk itu, sangat penting bagi perbankan Indonesia untuk menjalankan prinsip kehati-hatian (pruden) yang nantinya akan mempengaruhi persepsi risiko perbankan global terhadap perbankan Indonesia.
(hen/lih)











































