BI Waspadai Pelarian Dana ke Bank Besar dan Bank BUMN

BI Waspadai Pelarian Dana ke Bank Besar dan Bank BUMN

- detikFinance
Kamis, 18 Des 2008 12:02 WIB
BI Waspadai Pelarian Dana ke Bank Besar dan Bank BUMN
Jakarta - Likuiditas perbankan mulai membaik setelah berbagai peraturan yang dikeluarkan BI. Namun untuk kedepannya, BI akan tetap mewaspadai pelarian dana dari bank-bank kecil ke bank-bank besar dan bank BUMN.

Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad saat ini risiko kredit dan pasar masih tergolong rendah namun berpotensi akan meningkat apabila pemburukan ekonomi berlanjut.

"Perlu diwaspadai indikasi adanya segmentasi adanya segmentasi di PUAB serta terjadinya flight to quality dari bank menengah kecil ke kelompok Bank Persero dan bank besar," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyampaikan hal itu  dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2009 dalam Ulang tahun ke 50, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia di Gedung LPPI, Jalan Kemang Raya, Jakarta, Kamis (18/12/2008).

Muliaman menjelaskan, ditengah tekanan sistem ekonomi global, kondisi industri perbankan nasional saat ini secara umum masih stabil. Likuiditas industri perbankan bertambah karena pelonggaran ketentuan GMW dan adanya peningkatan DPK.

Ia menambahkan, total kredit year on year (Yoy) sekitar 37,1 persen. Untuk kredit investasi tumbuh paling tinggi sekitar 42,9 persen diikuti kredit modal 39 persen dan kredit konsumsi 33 persen.

"Jika pertumbuhan ekonomi di 2009 sekitar 4,9-5 persen, maka  pertumbuhan kredit ini diprediksi akan meningkat 15-20 persen," jelasnya.

Muliaman juga menyatakan pertumbuhan kredit di tahun ini juga tetap menjaga kualitas kredit. NPL gross relatif stabil diangka 3,9 persen dan NPL nettnya sedikit meningkat yaitu sekitar 1,57 persen dan CARnya masih cukup tinggi yaitu sekitar 16 persen.

Memasuki  tahun 2009, lanjut Muliaman, industri perbankan masih punya potensi untuk tumbuh.

"Saya kira dengan angka-angka ini kita harapkan ada potensi untuk tumbuh meski masih dalam kondisi kehati-hatian, karena saya meyakini dampak dari krisis ini masih ada tahun depan. Jadi enam bulan kedepan sangat menentukan apa yang bisa dicapai ditahun depan," urainya.

Namun, imbuh muliaman, masalahnya persoalannya suplai yang bisa diberikan industri perbankan juga harus ada demandnya. "Creating demand pada domestik di tahun depan menjadi sangat penting," pungkasnya.

 



(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads